Asip mengatakan tantangan lainnya ialah mentransformasikan nilai dan ideologi PKB kepada generasi muda. Sebab, menurutnya, ideologi tidak bisa sekadar diwariskan dari generasi sebelumnya.
BACA JUGA:DPC PKB Kota Tegal Datangi PCNU, Ada Apa?
“Ideologi ini bukan warisan, tetapi sesuatu yang bisa ditemukan oleh seseorang,” ujarnya.
Karena itu, kader muda harus diajak memahami nilai-nilai partai melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan mereka. Asip menilai PKB perlu menghubungkan nilai lama dengan kebutuhan generasi baru.
Ia merujuk kaidah al-muhafadzatu 'ala qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah. Prinsip tersebut dimaknai sebagai mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
“Ini kebutuhan Gen Z. Itu pasti kalau PKB sudah punya parameter seperti itu,” kata Asip.
BACA JUGA:PKB Soroti Pengelolaan APBD Kabupaten Tegal: Raih WTP Harus Sejalan Kesejahteraan Rakyat
BACA JUGA:Fraksi PKB DPRD Batang Pertanyakan Rp115 Miliar Anggaran Tak Terserap
Asip menegaskan, partainya harus bersikap cepat dan adaptif dalam merespons perubahan. Menurutnya, kemampuan menjawab tantangan zaman menjadi salah satu kunci mempertahankan eksistensi politik.
“Fast response, kemudian harus adaptif terhadap situasinya,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris DPC PKB Kabupaten Pekalongan, Jahirin M.H., mengatakan kepengurusan DPC saat ini menggabungkan kader muda dan pengurus lama. Komposisi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi sekaligus regenerasi.
“Komposisinya 50:50. Banyak pengurus lama yang kemudian masuk dalam kepengurusan baru periode Pak Asip,” kata Jahirin.
BACA JUGA:Ke-3 Kalinya, Saiful Mashud Dipercaya sebagai Ketua DPC PKB Salatiga
Jahirin mengatakan DPP PKB juga memberikan perhatian terhadap keterlibatan generasi muda. Kepengurusan DPC, DPAC hingga DPRt diprioritaskan memberi ruang bagi kader berusia maksimal 35 tahun.