Menurutnya, setelah memperoleh penjelasan mengenai tujuan sensus, ia akhirnya bersedia menjawab seluruh pertanyaan. Namun ia menilai sosialisasi kepada masyarakat masih perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Kebanyakan warga sebenarnya bukan menolak, tetapi ingin tahu data sebanyak itu dipakai untuk apa," tuturnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Sri Wahyuni, warga Laweyan. Ia mengaku sempat mengaitkan pendataan tersebut dengan persoalan perpajakan, terutama karena memiliki usaha berskala kecil.
"Saya sempat khawatir kalau nantinya berkaitan dengan pajak. Setelah dijelaskan bahwa pendataan ini untuk keperluan statistik, baru saya merasa lebih tenang," katanya.
Meski demikian, ia berharap pemerintah benar-benar mampu menjaga keamanan seluruh data yang telah disampaikan masyarakat.
Hal serupa juga dirasakan penghuni rumah kos. Dimas Prasetyo (21), mahasiswa asal Karanganyar yang tinggal di kawasan Nusukan, mengaku awalnya mengira sensus hanya menyasar pelaku usaha.
"Saya baru tahu ternyata penghuni kos juga didata. Karena diminta NIK dan informasi pribadi, saya sempat bertanya apakah ada kaitannya dengan administrasi atau pajak," ujarnya.
Menurutnya, meningkatnya kasus kebocoran data pribadi membuat masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi lebih waspada terhadap setiap proses pendataan.