Pesan untuk Pemerintah di Balik Nyadran Laut Roban Timur Batang

Pesan untuk Pemerintah di Balik Nyadran Laut Roban Timur Batang

Tradisi Nyadran Laut pesisir Roban Timur di Desa Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Minggu 28 Juni 2026-Ist-

BATANG, diswayjateng.id - Iring-iringan perahu berhias berisi sesaji menjadi Pemandangan Tradisi Nyadran Laut pesisir Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Minggu 28 Juni 2026.

Prosesi pelarungan sesaji berlangsung khidmat. Perahu bergerak perlahan menuju tengah laut. Warga mengiringinya dengan doa bersama.

Di sisi lain, Pengajian, doa bersama, hingga hiburan rakyat menjadi pelengkap tradisi warisan nyadran laut warisan leluhur itu.

Di balik itu, terdapat selipan pesan dari para nelayan pada pemerintah terkait nasib mereka.

BACA JUGA: Ukur Kekuatan Porprov Jateng, Atlet Batang Tanding di Bhayangkara Swimming Cup 1 2026

BACA JUGA: Tersentil Pengadilan Agama, Bupati Batang Otokritik Soal Ruang Ramah Anak di OPD

"Ada minimnya hasil tangkapan ke TPI, kurangnya sarana air bersih. Ada polusi air dari kotoran hewan babi. Masyarakat butuh kesejahteraan dan kesehatan," ujar Ketua Panitia Pesta Rakyat Nelayan Roban Timur, Abdul Hakim.

Ia menjabarkan bahwa aktivitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dinilai semakin sepi. Nelayan berharap pelelangan kembali ramai. Mereka percaya TPI menjadi nadi perekonomian pesisir.

Kesulitan air bersih menjadi persoalan berikutnya. Warga menilai pencemaran lingkungan memperburuk kondisi. Dampaknya dirasakan hingga aktivitas melaut dan kebutuhan rumah tangga.

Abdul Hakim mengatakan kesejahteraan nelayan belum sesuai harapan. Menurutnya, persoalan tersebut memerlukan perhatian serius. Pemerintah diminta segera menghadirkan solusi nyata.

BACA JUGA: BRI Batang Gandeng 40 Developer, Akad KPR Subsidi Bisa Tuntas Dua Hari

BACA JUGA: Efek Kawasan Industri, BRI Catat Permintaan KPR Subsidi Batang Melonjak

Keluhan lain menyangkut pengelolaan dana retribusi TPI. Setiap transaksi dikenai potongan tiga persen. Nelayan berharap dana itu kembali sebagai manfaat sosial.

Selama ini, manfaat tersebut dinilai belum dirasakan maksimal. Terutama santunan kematian bagi keluarga nelayan. Kondisi itu memunculkan banyak pertanyaan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait