“Pelaku masih kelas VIII SMP dan korban masih kelas I SD sehingga kami berharap kedua keluarga bisa mencari jalan damai melalui mediasi,” katanya.
Muhammad Hanif Afdlolurrohman juga berharap proses penyelesaian perkara tetap memperhatikan hak korban untuk mendapatkan pengobatan maksimal tanpa membebani keluarga.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian masyarakat Batang setelah korban mengalami luka bakar cukup serius saat bermain bersama sejumlah temannya.
Dari informasi yang diterima keluarga, korban diduga ikut bermain di sekitar kandang burung merpati sebelum api tiba-tiba menyambar tubuhnya.
Korban disebut berada di posisi paling belakang saat insiden terjadi sehingga tubuhnya terkena kobaran api paling parah dibanding anak-anak lain.
Peristiwa itu memicu keprihatinan publik sekaligus dorongan agar pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di lingkungan permukiman lebih diperhatikan.