KRAMAT, diswayjateng – Sejumlah ruas jalan di wilayah pantura Kabupaten Tegal kian memprihatinkan. Kerusakan yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kramat, Suradadi, dan Warureja, tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mengancam keselamatan pengguna jalan.
Di Kecamatan Kramat, keluhan paling mencolok datang dari ruas Babakan–Jatibogor. Maksus (55), warga Desa Kertayasa, menggambarkan kondisi jalan yang jauh dari layak. Aspal mengelupas, permukaan bergelombang, hingga lubang besar yang menganga menjadi pemandangan sehari-hari.
“Kalau sudah malam atau hujan, lubangnya sering tidak kelihatan. Banyak pengendara yang terpeleset, bahkan jatuh. Ini bukan sekadar tidak nyaman, tapi sudah membahayakan,” ujar Maksus dengan nada prihatin, Minggu (29/3/2026).
Padahal, lanjut dia, ruas tersebut merupakan jalur penghubung penting antara Kecamatan Kramat dan Suradadi. Setiap hari, jalan itu dilalui warga untuk aktivitas ekonomi, pertanian, pendidikan hingga layanan kesehatan.
BACA JUGA:DPRD Kabupaten Tegal Soroti Peredaran Tramadol, Minta Pengedar Ditindak Tegas
BACA JUGA:Sepekan Sidaharja Tegal Dikepung Banjir, DPRD Kabupaten Tegal Dorong Penanganan Serius
“Ini jalan vital. Tapi kenapa seperti dibiarkan? Kami hanya ingin ada perhatian serius dari pemerintah,” tegasnya.
Kondisi serupa juga dirasakan warga Kecamatan Suradadi. Irfan (40), warga Desa Kertasari, menyebut sedikitnya tiga ruas jalan utama yang membutuhkan penanganan segera, yakni Suradadi–Bader, Kertasari–Warureja, dan Kertasari–Jatibogor.
“Ketiga ruas itu akses utama warga. Tapi kondisinya jauh dari harapan. Kalau terus dibiarkan, dampaknya bisa lebih luas, terutama untuk perekonomian,” kata Irfan.
Ia berharap program pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pemerintah daerah benar-benar dirasakan hingga ke wilayah pantura.
BACA JUGA:Proyek Jembatan Sungai Erang Cilongok Molor, Warga Ngadu ke DPRD Kabupaten Tegal
BACA JUGA:DPRD Kabupaten Tegal Kritik Tajam Pengelolaan Guci, Bakhrun: Jangan Sampai Jadi 'Seribu Tiket'
“Kami di pantura juga bayar pajak. Harapannya pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tapi merata sampai ke pelosok,” imbuhnya.
Sementara itu, persoalan di Kecamatan Warureja tak hanya soal jalan rusak. Ali (49), warga Desa Banjarturi, menyoroti kondisi drainase dan sungai yang dangkal sehingga kerap memicu banjir saat musim hujan.