Makna Tersembunyi Tradisi Gantung Ketupat dan Lepet, Simbol Minta Maaf Saat Lebaran

Minggu 29-03-2026,20:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Wawan Setiawan

SEMARANG, Diswayjateng.com — Di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi canggih, tradisi gantung ketupat dan lepet masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat di Jawa Tengah. 

Tradisi ini tetap dijalankan sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu tradisi tersebut masih dijaga oleh Sulastri, warga Kampung Talun Kacang RT 5 RW 3, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Tradisi menggantung ketupat dan lepet di rumahnya masih rutin dilakukan setiap perayaan Lebaran. 

Oleh masyarakat yang masih memegang teguh adat, ketupat dan lepet tidak hanya dipandang sebagai makanan khas Lebaran. Lebih dari itu, keduanya dianggap memiliki makna simbolis yang mendalam, terutama dalam konteks hubungan antarmanusia. 

Makna dari ketupat dan lepet telah ditafsirkan sebagai simbol permohonan maaf dan pengakuan kesalahan. Filosofi tersebut telah dipercaya dan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. 

“Ketupat (kupat - ngaku lepat) bermakna mengakui kesalahan, sementara lepet (silep ingkang rapet) berarti mengubur kesalahan dengan rapat,” ujar Sulastri pada Sabtu, 28 Maret 2026. 

Simbolisme ini kemudian diwujudkan dalam bentuk nyata melalui pemasangan ketupat dan lepet di bagian rumah yang mudah terlihat. 

Tradisi gantung ketupat dan lepet biasanya telah dilakukan sejak hari pertama Lebaran. Ketupat dan lepet yang telah berisi kemudian digantungkan di area tertentu, terutama di pintu rumah.

Tidak terdapat batas waktu pasti terkait berapa lama ketupat dan lepet harus digantung. Tradisi ini dilakukan sesuai kebiasaan masing-masing keluarga. 

“Ketupat dan Lepet ini dipasang sejak hari perrama, dan tidak ada batanya sampai kapan," terangnya. 

Ketupat dan lepet yang digantung pun harus dalam kondisi sudah berisi, yang menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut. 

“Ketupat yang dipasang dipintu dalam bentuk sudah jadi, bukan janurnya saja” ujarnya singkat. 

Penempatan ketupat dan lepet di pintu rumah diyakini memiliki makna simbolis tersendiri. Lokasi tersebut dianggap strategis karena sering dilalui orang yang keluar masuk rumah. 

Dengan demikian, pesan simbolik berupa permintaan maaf diharapkan dapat tersampaikan kepada siapa saja yang datang. 

“Kalau harus dipintu, saya sendiri juga tidak tahu. Pastinya biar terlihat karena sering dilalui orang kayak gitu,” ucap Sulastri. 

Kategori :