Takbir Bergema di Desa Sidokerto Pati, 19 Replika Unik Iringi Malam Lebaran 2026

Sabtu 21-03-2026,06:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

SEMARANG, Diswayjateng.com — Kepulan asap tipis menari di bawah sorot lampu berwarna kuning, menciptakan suasana dramatis di sepanjang jalan desa. Di balik cahaya remang itu, replika ogoh-ogoh berbalut warna emas tampak samar, bergerak perlahan diiringi lantunan takbir yang menggema dari pengeras suara. Malam itu, suasana di Desa Sidokerto berubah menjadi lautan antusiasme saat puluhan kendaraan mengarak replika dalam kirab takbiran menyambut Idulfitri.

Sebanyak 19 replika turut memeriahkan karnaval tersebut. Ragam bentuk yang dihadirkan mencerminkan kreativitas warga, mulai dari miniatur masjid, tokoh pewayangan seperti Hanoman dan Gatotkaca, hingga bentuk modern seperti robot dan dinosaurus.

Selain itu, simbol-simbol budaya dan religi seperti burung Garuda, naga, singa, gajah, ogoh-ogoh, figur Sunan Kalijaga, hingga replika Al-Qur’an turut diarak berkeliling kampung.

Kirab takbir ini menjadi penanda datangnya Hari Raya bagi masyarakat setempat. Meski tidak diselenggarakan secara resmi oleh pemerintah Kabupaten Pati, inisiatif warga berhasil menjaga tradisi tetap hidup.

Mereka secara swadaya membuat replika dan mengatur jalannya arak-arakan, menjadikannya simbol gotong royong sekaligus ekspresi kegembiraan kolektif.

Tradisi takbiran keliling memang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa menjelang Lebaran. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah mulai membatasi kegiatan serupa di pusat kota.

Hal ini membuat warga di tingkat desa mengambil peran lebih besar untuk memastikan kemeriahan tetap terasa.

Bagi para perantau yang pulang kampung, momen ini menjadi pengalaman yang tak tergantikan. Citra, warga Semarang yang tengah mudik, mengaku sengaja mencari suasana takbiran setelah mendengar tidak ada perayaan besar di pusat kota.

“Dari tadi sudah keliling ke alun-alun, ternyata tidak ada tanda-tanda karnaval. Terus kita coba masuk ke kampung-kampung, dan melihat warga mulai berkumpul di tepi jalan. Dari situ kami yakin akan ada kirab yang melintas,” ujarnya, Jumat 20 Maret 2026 malam.

Rasa penasaran membawa Citra dan keluarganya mengikuti arus kendaraan kirab hingga menuju wilayah Tlogowungu.

Mereka bahkan rela menunggu di pinggir jalan demi menyaksikan iring-iringan replika yang lewat.

“Meski kirabnya sederhana, ini tetap jadi bagian dari kemeriahan Lebaran. Rasanya sayang kalau dilewatkan,” tambahnya.

Euforia yang sama juga dirasakan Dian, warga lain yang sengaja berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk mencari titik keramaian.

Ia mengaku telah menyambangi beberapa lokasi sebelum akhirnya memilih berhenti di sebuah pertigaan jalan yang disebut lebih ramai.

“Tadi sudah ke Desa Winong, sekarang ke sini karena katanya lebih meriah,” ujarnya.

Menurut Dian, meskipun ukuran replika yang ditampilkan tidak sebesar karnaval yang biasa digelar di alun-alun kota, semangat warga justru terasa lebih kuat.

“Kalau dulu di alun-alun memang besar dan megah, tapi ini buatan warga sendiri. Justru itu yang bikin puas melihatnya,” katanya sambil tersenyum.

Kirab takbir di Desa Sidokerto mulai berlangsung sejak pukul 19.30 WIB. Arak-arakan bergerak perlahan menyusuri jalan desa, diiringi gema takbir yang terus berkumandang dari pengeras suara di setiap kendaraan.

Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua, tampak memadati sisi jalan untuk menyaksikan iring-iringan tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu bergantung pada skala besar atau dukungan resmi. Justru dari inisiatif kecil masyarakat, nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan spiritualitas tetap terjaga.

Momentum seperti ini juga memiliki potensi besar untuk menarik perhatian publik lebih luas, terutama di era digital. Visual unik dari replika dan suasana malam yang penuh cahaya serta gema takbir menjadi konten yang menarik untuk dibagikan di media sosial, sehingga berpeluang masuk dalam algoritma pencarian dan rekomendasi platform seperti Google Discover.

Dengan mengangkat sisi human interest, kekuatan narasi, serta keunikan lokal, kirab takbir di Desa Sidokerto bukan hanya menjadi perayaan warga, tetapi juga potret hidup tradisi yang terus beradaptasi di tengah perubahan zaman.

 

Kategori :