Menurut Agung, produk seperti tabungan emas dan cicilan emas semakin diminati karena dianggap lebih aman, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu.
“Ketika situasi geopolitik tidak stabil, harga emas cenderung naik. Ini membuat emas menjadi pilihan investasi yang relatif aman,” jelasnya.
Berdasarkan pola yang terjadi setiap tahun, setelah Lebaran usai masyarakat diperkirakan kembali menggadaikan barang mereka untuk kebutuhan modal usaha. Bahkan, nilai pinjaman berpotensi meningkat seiring adanya tambahan aset baru seperti perhiasan.
“Biasanya setelah Lebaran, barang yang sudah ditebus akan kembali digadaikan. Pola ini terus berulang setiap tahun,” tambahnya.
Sementara itu, secara regional, kinerja penyaluran pinjaman gadai juga menunjukkan tren kenaikan. Data outstanding loan (OSL) mencatat peningkatan dari Rp6,6 triliun pada 2025 menjadi Rp10,1 triliun pada 2026.
Untuk periode bulanan, nilai OSL sebelum Ramadan tercatat sekitar Rp9,3 triliun dan meningkat menjadi Rp10,1 triliun menjelang Lebaran.
Pimpinan Wilayah Pegadaian Kanwil XI Semarang, M. Aries Aviani N, menyebutkan bahwa peningkatan ini mencerminkan tingginya kebutuhan likuiditas masyarakat menjelang hari besar keagamaan.
“Tren ini menunjukkan aktivitas gadai terus meningkat, baik secara bulanan maupun tahunan, terutama menjelang Lebaran,” ujarnya.