Bazar Baju Bekas “Bayar Seikhlasnya” di Semarang Diserbu Warga, Puluhan Boks Ludes Diborong

Bazar Baju Bekas “Bayar Seikhlasnya” di Semarang Diserbu Warga, Puluhan Boks Ludes Diborong

Bazar pakaian bekas berkualitas dengan konsep bayar seikhlasnya di Masjid Diponegoro Semarang diserbu warga. Dana terkumpul untuk kegiatan sosial Ramadan.-Dok. Warga-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com — Antusiasme warga terlihat tinggi saat bazar pakaian bekas berkualitas dengan konsep “bayar seikhlasnya” digelar dalam rangka kegiatan berbagi Ramadan oleh komunitas Ibu Profesional Semarang.

Puluhan boks berisi pakaian layak pakai yang ditata rapi langsung diburu masyarakat yang datang ke lokasi acara. 

Kegiatan sosial tersebut menjadi salah satu agenda tahunan komunitas yang selalu dinantikan warga. Selain memberikan kesempatan masyarakat mendapatkan pakaian berkualitas dengan harga sukarela, kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi di bulan suci Ramadan. 

Ketua kegiatan program KLiK (Kenali, Lindungi, Katakan No Bullying) Ibu Profesional Semarang, Nur Rahma Wahyu, menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini mengusung tema “Berbagi Tanpa Sekat”.

Program tersebut mengajak anggota komunitas serta masyarakat luas untuk terlibat dalam aksi sosial. 

“Kegiatan ini mengajak sekitar 250 anggota komunitas serta masyarakat umum untuk berpartisipasi dalam donasi paket berbuka puasa maupun pakaian layak pakai,” ujar Nur Rahma Wahyu, Kamis 12 Maret 2026. 

Aksi berbagi ini merupakan bagian dari kegiatan sosial yang rutin diselenggarakan sejak 2018. Pada Ramadan 2026, kegiatan digelar pada 7 Maret 2026 di halaman Masjid Diponegoro Pleburan, Kota Semarang. 

Dalam bazar tersebut, masyarakat bebas memilih pakaian yang diinginkan dan membayar sesuai kemampuan masing-masing. Tidak sedikit pengunjung yang membawa pulang lebih dari satu potong pakaian. 

Sejak bazar dibuka, warga berdatangan dan langsung memilih pakaian yang tersedia. Para ibu terlihat memilih baju untuk anak-anak mereka, sementara sejumlah bapak juga tampak mencari pakaian untuk anggota keluarganya. 

“Ada bapak-bapak yang membeli baju untuk istrinya, anak-anak muda juga ikut memilih. Bahkan masyarakat yang kebetulan melintas di depan masjid ikut mampir dan membeli,” katanya. 

Sekretaris Regional Ibu Profesional Semarang, Rovanty Frizdew, menuturkan konsep pembayaran sukarela dipilih agar setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan. 

Menurutnya, konsep tersebut juga menjaga martabat penerima manfaat karena mereka tetap memiliki pilihan dalam menentukan apa yang dibutuhkan. 

“Kami ingin setiap orang bisa menakar kebutuhan dan kemampuan dirinya. Dengan begitu lingkaran kepedulian ini tidak terputus. Dari donatur pakaian hingga pembeli pakaian, semuanya mendapatkan nilai dari kegiatan ini,” jelas Rovanty. 

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi amal semata, melainkan juga gerakan edukatif untuk menumbuhkan empati, kepedulian sosial, serta semangat pemberdayaan di masyarakat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: