“Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Ini merupakan transfer tradisi agar mereka menjadi generasi penerus,” kata Agustina.
Langkah ini sekaligus menjadi strategi pelestarian budaya agar Dugderan tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan warisan hidup yang terus berkembang.
Dugderan 2026 terasa semakin istimewa karena berdekatan dengan perayaan Imlek serta masa puasa Paskah bagi umat Kristiani. Momentum ini dinilai memperkuat harmoni lintas iman di Kota Semarang.
“Dugderan diharapkan menjadi lebih unik karena bertepatan dengan Imlek dan masa puasa Paskah. Harmoni ini akan terjadi lebih erat dan Semarang menjadi semakin damai,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi kota yang damai akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan investasi.
“Kalau sudah damai maka wisatawan pasti lebih banyak berkunjung dan investasi akan menjadi lebih banyak,” tegasnya.
Sebagai tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-19, Dugderan bukan hanya ritual menyambut Ramadan, tetapi juga identitas budaya Kota Semarang. Nama “Dugderan” sendiri berasal dari bunyi beduk “dug” dan suara meriam “der” yang menandai awal Ramadan.
Setiap tahunnya, perayaan ini mampu menyedot ribuan pengunjung dan menjadi daya tarik wisata budaya unggulan. Kirab Warak Ngendog, pertunjukan seni, hingga partisipasi masyarakat menjadikan Dugderan sebagai pesta rakyat yang inklusif.