Rumah Warga di Purwahamba Tegal Ambruk Akibat Abrasi, Galangan Kapal Disorot
AMBRUK - Anggota DPRD Kabupaten Tegal, H. Bakhrun, saat meninjau lokasi rumah ambruk, di Dukuh Pandan Laut, Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Selasa (17/2/2026).--
SLAWI, diswayjateng.com – Deru ombak tak lagi sekadar suara alam bagi warga Dukuh Pandan Laut, Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Kini, gelombang laut berubah menjadi ancaman nyata. Puluhan rumah tergerus abrasi. Satu rumah warga di Purbawahana bahkan sudah ambruk dan rata dengan tanah.
Rumah milik orangtua Eka (23), warga RT 02 RW 01, menjadi korban paling parah. Sejak awal Januari 2026, bangunan yang ia tempati bersama ayah, adik, dan suaminya porak-poranda dihantam abrasi.
“Awal Januari rumah saya ambruk. Hancur terkena abrasi laut. Jarak galangan kapal sekitar 100 meter dari rumah saya,” tutur Eka, Selasa (17/2/2026).
Kini ia terpaksa mengungsi ke rumah mertua di Kecamatan Kramat. Rumah yang membesarkannya sejak kecil tak lagi bisa ditempati. Dinding runtuh, pondasi tergerus, dan halaman berubah menjadi bibir pantai baru.
Warga menduga abrasi semakin parah setelah beroperasinya perusahaan galangan kapal di sisi barat permukiman, yakni PT Samugara Multi Karya Utama. Perusahaan itu disebut rutin mengeruk pasir saat menaikkan kapal dari laut ke darat.
“Kalau mau angkat kapal, pasir di bibir pantai dikeruk supaya tidak dangkal. Kedalamannya bisa sekitar 4 meter, lebarnya 15 meter. Hampir setiap hari,” ungkap Kepala Desa Purwahamba, Hasim, saat ditemui di lokasi.
Tak hanya pengerukan, keberadaan breakwater di kawasan dok kapal diduga memecah gelombang dan mengalihkan hantaman ombak ke sisi timur, tepat ke arah permukiman warga dan kawasan wisata.
Akibatnya, daratan sepanjang kurang lebih 300 meter dengan lebar mencapai 50 meter dilaporkan hilang tergerus laut. Daratan semakin menjorok ke selatan. Sekitar 10 rumah kini berada di zona rawan.
“Perusahaan itu berdiri sejak 2009. Tapi baru kali ini ada rumah sampai ambruk, karena daratan ratusan meter sudah hilang. Kami sudah beri teguran lisan dan tertulis, namun aktivitas tetap berjalan,” tegas Hasim.
Ironisnya, menurut warga dan pemerintah desa, hingga kini belum ada kompensasi dari pihak perusahaan.
Tak hanya rumah warga, abrasi juga mengintai ikon wisata Pantai Purwahamba Indah (Purin) yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi rumah ambruk. Jika tak segera ditangani, gelombang dikhawatirkan terus menggerus ke arah timur.
Penanggung jawab objek wisata Purin, Ramidi, mengaku prihatin.
“Ini harus segera ada solusi. Kalau abrasi terus melebar, kawasan wisata bisa terdampak. Di Purin belum ada breakwater. Kami akan sampaikan ke pimpinan di dinas porapar dan juga ke bupati,” ujarnya.
Ancaman tak berhenti di situ. Di kawasan tersebut juga berdiri pondok pesantren yang sudah lama menjadi pusat pendidikan agama warga sekitar. Jika abrasi terus menggila, keselamatan santri pun bisa terancam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: