Sementara itu, Ketua JMSI Batang–Pekalongan Ahmad Ujianto mengatakan peringatan HPN 2026 sengaja dibuat sederhana namun berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, tema nasional HPN 2026 yakni Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat harus diwujudkan melalui aksi nyata.
“Kami ingin menegaskan bahwa pers tidak hanya bekerja di ruang redaksi, tetapi hadir di tengah masyarakat, khususnya bagi anak-anak pejuang thalasemia,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kepedulian publik terhadap pencegahan dan penanganan thalasemia.
Ketua POPTI Batang Netty Wijayanti menjelaskan thalasemia bukan penyakit menular, melainkan kelainan darah genetik yang diturunkan dari orang tua.
Kelainan tersebut menyebabkan produksi hemoglobin tidak normal sehingga penderita mengalami anemia kronis.
Penyandang thalasemia mayor harus menjalani transfusi darah rutin seumur hidup serta terapi pengeluaran zat besi.
Saat ini terdapat 43 anak penyandang thalasemia di Kabupaten Batang yang tersebar di sejumlah kecamatan, dengan jumlah terbanyak di Kecamatan Bandar.
POPTI telah memulai sosialisasi program Zero Thalasemia sejak Januari 2026 di kalangan pelajar sebagai upaya pencegahan melalui skrining genetik sebelum pernikahan.
Netty juga mengajak masyarakat rutin mendonorkan darah demi membantu keberlangsungan hidup anak-anak penyandang thalasemia.
“Setetes darah Anda adalah napas kehidupan bagi anak-anak kami,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan santunan secara simbolis dan sesi edukasi kesehatan bagi keluarga pasien.
Melalui peringatan HPN 2026, JMSI berharap sinergi antara pers, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat terus terjalin untuk mendukung kesehatan dan kepedulian sosial di Kabupaten Batang.