“Karena jumlah penerima manfaat kami besar, kebutuhan anggaran juga besar, sehingga ketika dana belum cair kami benar-benar tidak punya ruang untuk tetap beroperasi,” jelas Ananta.
Ia menegaskan bahwa keputusan penghentian bersifat sementara dan bukan penghentian permanen program.
Selama masa jeda operasional, pihaknya memanfaatkan waktu untuk melakukan pembenahan fasilitas dapur agar sesuai dengan standar operasional prosedur terbaru dari BGN.
“Kami justru gunakan waktu ini untuk memperbaiki fasilitas dan memastikan semuanya sesuai SOP baru, jadi ketika dana cair kami bisa langsung jalan tanpa hambatan,” ujarnya.
Program MBG selama ini menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam mendukung pemenuhan gizi anak sekolah sekaligus mencegah stunting.
Bagi sebagian siswa, khususnya dari keluarga kurang mampu, MBG bukan sekadar program tambahan melainkan sumber asupan gizi penting setiap hari sekolah.
Penghentian distribusi tentu berdampak pada rutinitas konsumsi para siswa yang selama ini sudah terjadwal.
Ananta mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh sekolah yang dilayani untuk menyampaikan kondisi tersebut secara transparan.
“Kami sudah komunikasi dengan pihak sekolah agar mereka memahami situasi dan bisa menyampaikan kepada orang tua siswa,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, SPPG Kauman 1 masih menunggu kepastian pencairan dana dari pemerintah pusat melalui BGN.
Ia berharap proses administrasi dapat segera diselesaikan agar ribuan siswa kembali menerima manfaat program.
“Kami tetap berkomitmen mendukung program pemenuhan gizi nasional dan siap kembali beroperasi begitu dana diterima,” tegasnya.
Program MBG di Kabupaten Batang sendiri merupakan bagian dari implementasi kebijakan nasional dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui intervensi gizi sejak usia dini.
Namun peristiwa ini menunjukkan bahwa keberlanjutan program sangat bergantung pada ketepatan mekanisme pencairan anggaran di tingkat pusat.
Jika tidak segera diatasi, gangguan distribusi berpotensi berulang dan mempengaruhi stabilitas layanan pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah di daerah.