5 Juta Warga Jateng Terdata Hipertensi, Dokter Sebut Jadi Pemicu Kematian Tertinggi

Kamis 05-02-2026,08:30 WIB
Reporter : Umar Dani
Editor : Laela Nurchayati

SEMARANG, diswayjateng.com – Hipertensi atau darah tinggi masih menjadi masalah serius di Jawa Tengah. Dinkes Jateng mencatat lebih dari 5 juta warga terdata mengalami hipertensi sepanjang 2025, sementara PERKI menyebut hipertensi sebagai faktor risiko kematian tertinggi karena memicu stroke hingga gagal ginjal.

Penyakit yang dikenal sebagai silent killer ini kerap tidak menimbulkan gejala, namun dapat memicu komplikasi mematikan seperti stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo mengatakan berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah, jumlah kasus hipertensi di Jateng pada tahun 2025 tercatat mencapai 5.070.175 orang. 

Menurut Heri, Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 5.632.593 orang.

“Data orang yang periksa hipertensi di FKTP (fasilitas kesehatan tingkat pertama) tahun 2025 sebanyak 5.070.175 orang,” kata Heri , saat dikonfirmasi wartawan Rabu (4/2).

Ketua Pokja Hipertensi PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), dr. Bagus Andi Pramono, menyebut hipertensi merupakan faktor risiko penyebab kematian tertinggi.

Menurut dr Bagus, hipertensi bukan hanya penyakit tunggal, melainkan pemicu utama kerusakan organ vital lainnya. 

"Banyak kasus kematian akibat stroke dan serangan jantung ternyata berakar dari hipertensi yang tidak terkontrol" ungkap dr Bagus dalam acara pembukaan Omron Experience Center (OEC) Semarang.

Dia menjelaskan, Hipertensi penyebab kematian nomor satu, bukan yang langsung.

Tapi banyak pasien meninggal akibat stroke dan serangan jantung yang ketika diruntut memiliki penyakit hipertensi

"Hipertensi sering tidak disadari oleh penderitanya karena tidak menimbulkan keluhan secara langsung. Namun dampaknya dapat berakibat fatal" paparnya.

“Jadi, ketika seseorang mengalami hipertensi, bukan hanya hipertensi saja yang dialami pasien itu. Tapi juga komplikasi- komplikasi yang justru lebih penting,” ujarnya.

Hipertensi juga dapat merusak pembuluh darah kecil yang tersebar di seluruh tubuh. Kerusakan bisa terjadi di otak, mata, jantung, hingga ginjal.

Bahkan, hipertensi berisiko menyebabkan kebutaan dan gagal ginjal apabila tidak ditangani dengan baik.

Karena itu, dr Bagus menekankan pentingnya kontrol tekanan darah dengan target yang kini semakin rendah, yakni mendekati 120/80 mmHg.

Kategori :