SLAWI, diswayjateng.com – Pemerintah Kabupaten Tegal bergerak cepat merespons terputusnya akses jalan di Sokasari, Kecamatan Bumijawa, akibat longsor. Alih-alih membangun ulang di titik lama yang rawan, Pemkab Tegal memilih langkah berani dengan membuka jalur alternatif baru Sokasari-Bojong yang dinilai lebih aman dan berkelanjutan.
Komitmen itu ditegaskan langsung oleh Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman saat meninjau lokasi terdampak, Jumat (30/1/2026) siang. Menurutnya, pembangunan kembali jalan di titik semula berisiko tinggi karena potensi longsor susulan masih mengintai.
“Melihat kondisi tanah yang tersisa sangat terbatas, kami memutuskan membuka jalur baru agar risiko longsor dapat diminimalkan,” ujar Ischak di lokasi.
Ischak menjelaskan, longsor yang terjadi pada 24–26 Januari 2026 mengakibatkan sebagian badan jalan di sisi kanan amblas dan sama sekali tak bisa dilalui kendaraan bermotor. Kondisi tersebut membuat akses warga terganggu, terutama di jalur vital Sokasari–Bojong.
Padahal, jalur Bojongsari selama ini menjadi akses cepat warga dari Sokasari menuju Pasar Bojong, pusat kota, hingga wilayah sekitarnya. Terputusnya jalur alternatif itu membuat jarak tempuh warga semakin jauh, meski akses utama menuju pusat Kecamatan Bumijawa masih tersedia.
Lebih ironis lagi, Jembatan Sokasari yang kini tak bisa dilalui kendaraan baru selesai dibangun pada 2025 lalu. Jembatan senilai sekitar Rp2,9 miliar dari APBD Kabupaten Tegal itu bahkan baru digunakan sekitar satu bulan. Sementara jalan penghubung di sekitarnya terakhir dibangun pada 2023.
Kini, warga yang hendak menuju Puncung harus berjalan kaki hingga jembatan, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan ojek dari sisi seberang. Aktivitas warga pun tersendat, terutama bagi pedagang dan pelajar.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemkab Tegal melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan asesmen awal guna menentukan pola penanganan paling aman. Untuk penanganan lanjutan, Pemkab akan memanfaatkan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan estimasi anggaran sekitar Rp500 juta hingga Rp700 juta.
Selain pembangunan jalan alternatif, pemerintah juga akan melakukan penyodetan aliran air di sekitar jembatan lama. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi tekanan arus air terhadap tebing di bawah badan jalan yang rawan tergerus.
Tak hanya itu, Bupati Ischak juga meminta pemerintah desa segera memfasilitasi musyawarah dengan warga pemilik lahan yang akan dilalui jalur baru.
“Semakin cepat kesepakatan dengan warga tercapai, pengerjaan juga bisa segera dimulai,” tegasnya.
Pemkab Tegal memastikan penanganan akses jalan di Jembatan Sokasari akan menjadi prioritas. Keselamatan warga, kata Ischak, menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan pembangunan, terutama di wilayah rawan bencana seperti Bumijawa.