Normalisasi Kali Siwerak Kembali Mencuat di Musrenbangkel Debong Kidul

Normalisasi Kali Siwerak Kembali Mencuat di Musrenbangkel Debong Kidul

DEBONG KIDUL – Anggota DPRD Kota Tegal Daerah Pemilihan Tegal Selatan Bagas Satya Indrana berbicara dalam kegiatan Musrenbangkel Debong Kidul, Jumat (30/1).--

TEGAL, diswayjateng.com - Siang itu, Pendapa Kelurahan Debong Kidul tidak hanya diisi kursi dan meja. Namun, juga dipenuhi cerita tentang persoalan-persoalan warga. Mulai dari yang klasik dan terus berulang: permasalahan Kali Siwerak, sampai yang terkini: paving rusak. Semua tertumpah dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) Debong Kidul 2026 yang digelar Jumat (30/1).

Forum resmi tersebut dihadiri pejabat-pejabat penting. Mulai dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal Dapil Tegal Selatan Bagas Satya Indrana dan Abdul Ghoni, Camat Tegal Selatan HMB Budi Santosa, hingga Kepala Puskesmas Bandung dr Wahidin.

Kelurahan juga mengundang RT, RW, PKK, Karang Taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi kepemudaan. Lengkap, sebanyak 80 orang.

Seperti biasa, warga datang membawa usulan, yang sebelumnya telah dikerucutkan dalam Rembug Warga. Yang menjadi prioritas, dibatasi dua kegiatan pembangunan fisik dan dua nonfisik.

Dari RW 1, nama Kali Siwerak kembali disebut. Sungai kecil yang berbatasan dengan Debong Tengah itu seolah menjadi simbol permasalahan klasik yang sampai saat ini belum terpecahkan solusinya.

Penyebabnya, elevasi Debong Tengah lebih tinggi. Air dari Debong Kidul pun tertahan. Mengendap. Berbau. Limbah tahu ikut memperparah. Talut rusak, air tak mengalir, hujan sedikit saja, banjir datang.

Dulu pernah ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Namun, belum menyelesaikan persoalan. Karena itu, usulan normalisasi kembali muncul. Harapannya sederhana: air bisa jalan.

Lurah Debong Kidul Erni tidak menutup mata. Dia menyadari persoalan Kali Siwerak tidak bisa diselesaikan sendirian. “Harus dikerjakan bersama lintas wilayah,” ujar Erni.

Masalah lain datang dari RW 2. Jalan KH Mustofa, di belakang Masjid Al Hidayah, kini tak lagi nyaman dilalui. Paving rusak, saluran tengah ambrol. Setiap hujan, air menggenang. Padahal jalan itu menjadi urat nadi penghubung antar-RW. Usulannya jelas: perbaikan.

Tak melulu soal infrakstruktur. Ada juga cerita tentang anak-anak muda yang ingin belajar komputer, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Ada produk warga yang sebenarnya bagus, tapi tak bisa ke mana-mana karena pemasarannya masih konvensional.

Maka, pelatihan komputer dan pemasaran online diusulkan. Ibu-ibu pun tak mau ketinggalan. Mereka mengusulkan pelatihan tata boga. Harapannya sederhana juga: bisa menambah penghasilan keluarga.

“Kami berharap, meski anggaran terbatas, setidaknya satu RW ada satu kegiatan fisik yang bisa dikerjakan,” ucap Erni. Supaya warga tidak pulang dengan rasa kecewa.

Anggota DPRD Kota Tegal Dapil Tegal Selatan merespons baik usulan warga. Bagas Satya Indrana dari Fraksi Partai Golkar menyebut Kota Tegal tengah membahas Rancangan Perda Pengelolaan Sistem Drainase.

Aturan itu, katanya, akan mengatur pengelolaan drainase secara menyeluruh, termasuk Kali Siwerak. Dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Bahkan sanksi pun disiapkan bagi yang melanggar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait