Warga Panggung Tegal Minta Penanganan Banjir Jadi Prioritas

Warga Panggung Tegal Minta Penanganan Banjir Jadi Prioritas

PANGGUNG – Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, mengadakan Musrenbangkel di Pendapa Kelurahan pada Kamis (29/1).--

TEGAL, diswayjateng.com - Warga Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur meminta penanganan banjir agar menjadi prioritas pembangunan.  Maklum, bertahun-tahun mereka hidup di daerah yang rawan tergenang. 

Ketika hujan turun maka air naik. Karena itu, ketika Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) 2026 diselenggarakan di Pendapa Kelurahan, Kamis (29/1). Satu permintaan langsung mendominasi, terkait penanganan banjir ini.

Musrenbangkel Panggung kali ini terasa cukup lengkap. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Pemilihan Tegal Timur hadir, mulai dari Amiruddin, Ratna Edy Suripno, Purnomo, dan Mochammad Ali Mashuri. Unsur kelurahan juga duduk satu tempat.

Dari Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Tegal Timur Kustanto hingga Kepala Puskesmas Tegal Timur dr Destina Dyah Astuti.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Panggung Suwardi memandu jalannya musyawarah. Pesertanya lintas elemen: RT, RW, PKK, sampai Posyandu.

Semua diberi ruang bicara. Dan hampir soal yang sama. Dari 14 RW yang ada, masing-masing diberi kesempatan dua usulan fisik dan dua usulan non fisik. Permasalahan infrastruktur penanganan banjir mendominasi usulan fisik.

“Usulan mengerucut saluran untuk penanggulangan banjir,” kata Lurah Panggung Rokhiman, “mengingat genangan merata.” Menurut Rokhiman, Saluran air menjadi titik kunci.

Di situlah penanganan harus dimulai jika banjir ingin benar-benar dikurangi, bukan sekadar dipindahkan. Di Jalan Kartini Gang Krakatau RT 2 RW 1 misalnya, sampai saat ini belum memiliki saluran tengah. Sehingga, wilayah kerap terendam banjir.

Begitu pula yang terjadi di Gang Al Falah di RT 4 dan 5 RW 2, Jalan Setiabudi RT 9 RW 4, Jalan Panggung Baru Gang 10A RT 2 dan 6 RW 6, Jalan Serayu RT 1 dan 2 RW 8, hingga Jalan Pulo Rote RT 13 RW 9.

Nama jalannya berbeda. RW-nya berbeda. Namun ceritanya sama. Belum memiliki saluran tengah. Akibatnya, air kerap datang. Dan membutuhkan waktu tidak sebentar untuk menghilang.

Tak hanya usulan kegiatan fisik, warga juga mengusulkan kegiatan non fisik. Suara dari ibu-ibu PKK. Mereka jujur. Produksi ada. Kue ada. Makanan rumahan ada. Rasanya juga tidak kalah. Masalahnya satu: tidak tahu cara menjualnya ke luar dapur.

Pemasaran online masih terasa asing. Pegang ponsel bisa. Pakai WhatsApp lancar. Namun, menjadikan layar kecil itu sebagai etalase dagang? Belum.

Akibatnya, produk hanya berputar di lingkungan sendiri. Tidak tumbuh. Tidak naik kelas. Karena itu usulnya sederhana, tapi strategis: pelatihan pemasaran online. Bukan teori panjang. Tapi praktik. Langsung pegang gawai. Langsung jual.

Ada lagi usulan lain. Pelatihan tata boga. Bukan sekadar bisa memasak. Tapi memasak yang bernilai jual. Yang rapi. Yang punya standar. Supaya lahir sumber daya manusia yang mandiri. Produktif. Tidak menunggu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: