SEMARANG, diswayjateng.com – Usai dilantik Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti di Balai Kota Semarang, Senin (26/1/2026), Direktur PT Taman Satwa Semarang (Perseroda) periode 2025–2029, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, langsung bergerak cepat menyiapkan strategi penguatan konservasi di Semarang Zoo.
Wali Kota Semarang menegaskan, jabatan Direktur PT Taman Satwa Semarang merupakan posisi strategis mengingat Semarang Zoo memiliki peran penting sebagai ruang rekreasi, edukasi, sekaligus kawasan konservasi satwa.
Ia berpesan agar pengelolaan Semarang Zoo difokuskan pada pengembangan fungsi edukasi, konservasi, dan rekreasi secara profesional serta berkelanjutan.
Hal tersebut dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan, kesejahteraan satwa, serta pengembangan wahana ramah anak dan keluarga.
Selain itu, wali kota juga mendorong penataan kawasan yang lebih alamiah dengan konsep sederhana namun edukatif guna memperkuat pengalaman belajar, rekreasi, dan fungsi konservasi bagi pengunjung.
Sementara itu, Direktur PT Taman Satwa Semarang (Perseroda) Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan Semarang Zoo, khususnya di bidang konservasi satwa.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah pembenahan program konservasi, termasuk pengelolaan satwa kunci seperti harimau benggala ( Panthera tigris tigris ).
Menurut Bimo, harimau benggala yang tersisa saat ini merupakan hasil pembiakan lama sehingga membutuhkan indukan atau pejantan baru agar tidak terjadi cacat genetik pada anakan.
“Semua harimau di Semarang Zoo merupakan hasil pembiakan lama. Jika terus dikawinkan, berisiko terjadi inbreeding yang bisa menyebabkan cacat hingga kematian sebelum dewasa,” ujar Bimo saat ditemui di kantornya, Rabu (28/1/2026).
Karena itu, pihaknya sengaja mengosongkan kandang harimau untuk sementara waktu dan menukarnya dengan beberapa satwa lain seperti kapibara dan sitatunga.
Ia menjelaskan, warna bulu harimau yang pucat atau cenderung putih merupakan indikasi inbreeding yang berdampak pada masalah genetik, seperti gangguan jantung, nafsu makan rendah, hingga pertumbuhan yang tidak optimal.
Ke depan, Bimo juga berencana menghadirkan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) guna menambah koleksi satwa sekaligus memperkuat fungsi konservasi Semarang Zoo.
“Kandang memang sengaja dikosongkan. Nanti akan kita cari Harimau Sumatra untuk menambah koleksi sekaligus mendukung konservasi,” jelasnya.
Menurutnya, konservasi merupakan kewajiban setiap lembaga konservasi. Oleh karena itu, Semarang Zoo akan terus berupaya menyediakan kandang yang layak untuk mendatangkan satwa baru melalui mekanisme hibah atau tukar-menukar satwa.
Selain harimau, Bimo juga menyoroti keberadaan tiga ekor orangutan Kalimantan jantan di Semarang Zoo yang belum dapat dikembangbiakkan karena tidak adanya individu betina.