“Dari baby maggot, kurang lebih tiga minggu sudah bisa dipanen,” jelasnya.
Dalam proses penguraian sampah, satu kilogram maggot mampu menghabiskan sekitar lima kilogram sampah organik setiap hari. Sampah tersebut berasal dari sisa makanan mentah maupun olahan sederhana.
“Satu kilo maggot bisa menghabiskan lima kilo sampah organik per hari,” katanya.
Menanggapi kekhawatiran warga soal lalat, Musa menegaskan bahwa lalat BSF berbeda dengan lalat hijau yang berpotensi membawa penyakit. Lalat tentara hitam dinilai aman dan memiliki masa hidup yang singkat.
“Lalat BSF tidak menyebarkan penyakit dan umur hidupnya hanya satu sampai dua minggu,” jelasnya.
Selain kegiatan budidaya, pengelola TPA Jatibarang juga aktif melakukan edukasi dan sosialisasi pengelolaan sampah organik kepada masyarakat, mulai dari tingkat RT, RW, hingga sekolah menengah pertama.
BACA JUGA:Baznas Tanggap Bencana Salurkan Bantuan Pangan Korban Banjir di Sidakaton Tegal
“Kami ingin masyarakat bisa mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri lewat budidaya maggot,” ujarnya.
Bagi warga yang ingin belajar, pengelola memastikan kegiatan edukasi budidaya maggot di TPA Jatibarang tidak dipungut biaya. Bahkan, peserta juga mendapatkan bibit maggot setelah pelatihan.
“Gratis, dan setelah edukasi kami juga berikan bibitnya,” katanya.
Melalui pendekatan edukatif dan pemanfaatan teknologi sederhana, budidaya maggot di TPA Jatibarang diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam mengurangi volume sampah organik sekaligus mendukung ketersediaan pakan ternak di Kota Semarang.