Semaan Alquran Ramadan di Masjid Agung Semarang, Tradisi Sejak 1970-an Terus Berlanjut Hingga Era Digital

Semaan Alquran Ramadan di Masjid Agung Semarang, Tradisi Sejak 1970-an Terus Berlanjut Hingga Era Digital

Sejumlah jamaah mengikuti semaan Al Quran di Masjid Agung Semarang.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.com – Suasana khusyuk menyelimuti serambi Masjid Agung Semarang usai salad dhuhur. Sejumlah jemaah duduk bersila dengan mushaf di tangan, menyimak lantunan ayat suci yang dibacakan kiai. Kegiatan semaan Alquran yang digelar sejak 1 hingga 27 Ramadan itu kembali menjadi magnet bagi umat Muslim dari berbagai wilayah. 

Di antara jemaah yang hadir, Agung Wibowo, warga Barutikung, Semarang Utara, tampak serius mengikuti pembacaan ayat. Dengan Alquran di kedua tangannya, ia menyimak bacaan yang dilanjutkan dengan penjelasan tafsir. 

“Rutin setiap bulan Ramadan saya ke sini,” ujar Agung kepada Disway jateng, Minggu 22 Februari 2026. 

Ia mengaku mulai mendalami pengajian secara intens sekitar empat tahun terakhir. Sebelumnya, ia merasa masih berada pada tahap pemahaman agama yang minim. 

“Awalnya saya hanya Muslim biasa. Setelah mendalami, sekitar empat tahun lalu, saya mulai rutin ikut semaan. Manfaatnya besar sekali, bisa berkumpul dengan sesama Muslim, menambah ilmu tentang Alquran dan kajian-kajiannya,” katanya. 

Menurut Agung, mengikuti semaan membuatnya lebih mudah memahami isi kandungan Alquran karena tidak hanya membaca, tetapi juga mendapatkan penjelasan tafsir dan fadilah ayat. 

“Kalau hanya membaca, kadang tidak tahu maknanya. Di sini ada tafsirnya, jadi lebih paham. Ramadan ini terasa berbeda, lebih mendekatkan diri kepada Allah, apalagi ini masjid wali, orang-orang percaya ada keberkahannya,” tuturnya. 

Pembina Yayasan Masjid Agung Kauman, Imin, menjelaskan semaan Alquran di Masjid Agung Semarang telah berlangsung sejak dekade 1970-an. Bahkan, menurutnya, tradisi tersebut sudah ada sejak dirinya masih kecil. 

“Kegiatan ini memang rutin setiap Ramadan. Namanya semaan, tafsir, dan fadilah Al-Qur’an. Jadi ada tiga rangkaian: pembacaan Alquran yang disimak jemaah, penjelasan tafsir, dan penyampaian fadilah ayat,” jelasnya. 

Ia menyebut tradisi ini pertama kali diasuh oleh KH Abdullah Umar, seorang ulama asal Kudus yang dikenal sebagai ahli Alquran. Setelah wafat, estafet pengasuhan dilanjutkan murid-muridnya, di antaranya KH Ahmad Maqib Nur Al-Hafiz hingga KH Abdul Hakim Al-Hafiz. 

“Dulu jemaahnya sangat banyak, bahkan bisa ribuan. Ada yang khusus datang dari luar kota, menginap satu bulan penuh hanya untuk mengikuti semaan,” ungkap Imin. 

Pada masa awal, semaan menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin memperdalam tajwid dan memahami hukum bacaan. Jemaah diminta menandai mushaf sesuai waqaf dan ibtida yang dicontohkan kiai. 

“Selain tafsir, juga ada ijazah-ijazah amalan yang disampaikan. Itu bagian dari fadilah ayat,” tambahnya. 

Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Memasuki era digital, jumlah jemaah yang hadir secara fisik memang tak sebanyak masa lalu. Jika dulu jumlahnya bisa menembus lebih dari 5.000 orang pada awal Ramadan, kini berkisar 2.000 hingga 2.500 jemaah. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: