Tidak Ikut Posyandu, Angka Stunting di Kota Semarang Naik

Tidak Ikut Posyandu, Angka Stunting di Kota Semarang Naik

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam memaparkan kasus kenaikan stunting di Kota Semarang, Rabu 13 November 2024.--Wahyu sulistiyawan

SEMARANG, diswayjateng.id - Angka stunting di Kota SEMARANG mengalami kenaikan pada Oktober 2024. Kenaikan tersebut dikarenakan ketidak ikut sertaan dalam progam posyandu.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang pada Agustus 2024 angka stunting berjumlah 1.096 kasus dengan presentasi 1,31% mengalami kenaikan pada Oktober 2024 sebanyak 1.199 kasus dengan presentasi 1,46%.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam mengatakan, kenaikan angka stunting di Kota Semarang ini karena balita selama ini tidak mengakses posyandu dan baru terdata pada Oktober 2024 ini. 

"Pada bulan Agustus ada intake interfensi serentak dan semua Posyandu aktif, balita juga datang sehingga akhirnya data baru teridentifikasi kasus stuntingnya," kata Hakam, Rabu, 13 November 2024. 

BACA JUGA: Ikut Tuntaskan ODF dan Turunkan Stunting, PT BPI Raih Apresiasi Pemkab Batang di Bidang Kesehatan

BACA JUGA: Bagikan Ratusan Sayur Gratis, Calon Wali Kota Robby Hernawan Komitmen Jadikan Salatiga Zero Stunting

Menurutnya, kenaikan stunting pada akhir tahun ini karena ketidak aktifnya orang tua yang tidak membawa ke posyandu, dan pastinya mereka mendapatkan interfensi sehingga kemudian tidak terlupakan.

"Mereka pasti akan kita lihat dari sisi status gizinya, apakah dia masuk di stunting atau masuk di wasting , underweight dan wefeltering jika 2-3 bulan berturut-turut berat badannya tidak naik," ujarnya.

Menurutnya, kasus ini juga bisa jadi karena dari hulunya wefeltering dan underweight yang tidak terinterfensi dengan bagus sehingga akan lari ke stunting. 

"Tidak menutup kemungkinan, hulunya dari sana yang tadinya wefeltering dan underweight bisa jadi kalau tidak terinterfensi dengan bagus, nanti dia juga akan lari ke stunting juga," jelasnya.

BACA JUGA: Atasi Stunting, Dinkes Kota Tegal Sosialisasikan Proyek Perubahan Strategi Pasti Main

BACA JUGA: Lakukan Rehabilitasi Sosial, Pemkab Demak Fokus ke Kesehatan Anak Stunting

Penanganan kasus juga dilihat dari hulunya yang 15% karena ketidak aktifnya mengikuti posyandu. Untuk penanganan wefeltering selama 2minggu, wasting 2 bulan atau 8 minggu dan stunting 3 bulan.

"Masalahnya juga karena kadang-kadang terbatas, ada yang sudah 3 bulan intervensi masih belum perbaikan, 2 bulan intervensif belum ada perbaikan, celah untuk mencari bantuan intervesi ya dari ABPD atau CSR masyarakat sekitar," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: