HUT disway jateng

Guru Juga Orang Biasa

Guru Juga Orang Biasa

--

Oleh: Rahman Ade Permana, S.Pd.I.

Guru PAI SMA Negeri 5 Kota Tegal

 

SETIAP pagi, saya melangkahkan kaki menuju kelas di SMA Negeri 5 Kota Tegal dengan harapan yang sama: melihat peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. Namun, sebagai seorang guru, saya menyadari tantangan mendidik generasi hari ini jauh berbeda dan berlipat ganda dibanding beberapa tahun lalu.

 

Kemajuan teknologi telah merombak hampir seluruh aspek kehidupan. Gawai bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan organ baru yang tak terpisahkan dari keseharian peserta didik. Informasi membanjir tanpa batas, media sosial mendikte pola pikir, bahkan tokoh yang mereka kagumi bukan lagi orang-orang terdekat, melainkan para kreator konten di jagat maya.

 

Teknologi tentu bukan musuh. Ia adalah anugerah yang harus dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, dan melejitkan potensi. Namun, ketika teknologi hadir tanpa dibarengi penguatan nilai, moral, dan akhlak, maka kemajuan justru akan kehilangan kompas arahnya.

 

Sebagai guru, saya melihat betapa luar biasanya potensi anak-anak zaman sekarang. Mereka cerdas, cepat menangkap hal baru, berani bersuara, dan kreatif. Akan tetapi, ada sisi paradoks yang tidak bisa diabaikan. Sebagian peserta didik mulai gagap menjaga etika berkomunikasi, rapuh dan kurang sabar dalam menghadapi proses, atau lebih sibuk berburu panggung pengakuan di media sosial ketimbang mengukir prestasi di dunia nyata.

 

Tentu tidak semua demikian. Masih banyak siswa yang tetap santun, berprestasi, dan kukuh memegang akhlakul karimah. Mereka adalah bukti sahih bahwa kemajuan teknologi dan karakter yang kuat bisa berjalan beriringan.

Di tengah situasi dilematis ini, beban harapan masyarakat justru diletakkan mati-matian di pundak guru. Guru dituntut menjadi juru selamat yang mampu menyelesaikan seluruh sengkarut karakter generasi muda. Begitu ada siswa yang berperilaku minus di luar sekolah, tudingan telunjuk publik langsung mengarah tajam: "Apa yang diajarkan gurunya di sekolah?" Padahal, guru juga orang biasa.

 

Guru bukan manusia maksum yang sempurna. Guru memiliki domestik keluarga, memiliki tumpukan masalah pribadi, kerap didera rasa lelah, dan di sisi lain harus terseok-seok belajar menyesuaikan diri dengan gempuran zaman. Ingat, guru tidak membersamai peserta didik selama 24 jam. Waktu tatap muka di sekolah hanyalah fragmen kecil dari kehidupan mereka.

 

Selebihnya, anak-anak belajar dari ekosistem keluarga, pergaulan, dan rimba digital yang tidak pernah berhenti mengintervensi cara mereka berpikir dan bersikap.

 

Karena itulah, pendidikan karakter tidak boleh menjadi beban menara gading bagi guru seorang diri. Sekolah hanyalah salah satu pilar. Orang tua adalah madrasah pertama dan utama, masyarakat adalah laboratorium lingkungan yang membentuk kebiasaan, sementara teknologi adalah ruang baru yang wajib kita kawal bersama.

 

Saya percaya, tidak ada anak yang lahir dengan cetak biru akhlak yang buruk. Mereka tumbuh dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap hari. Ketika rumah memeluk dengan kasih sayang, sekolah menyuntikkan nilai, masyarakat menyuguhkan keteladanan, dan teknologi diadopsi secara bijak, maka akan lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

 

Menjadi pendidik di era digital bukan sekadar menuntaskan transfer materi pelajaran. Kami juga bertransformasi menjadi pendengar yang baik, pembimbing, motivator, bahkan tempat pelarian bagi peserta didik untuk mencurahkan kegelisahan yang tidak mampu mereka sampaikan kepada siapa pun. Tugas ini melelahkan, tetapi kami menjalaninya dengan khidmat dan ikhlas. Kami percaya, setiap benih kebaikan yang ditanam hari ini, akan rimbun menjadi manfaat di masa depan.

 

Harapan saya sederhana. Semoga masyarakat tidak hanya menghakimi hasil akhir dari seorang guru, tetapi juga mau menengok jerih payah perjuangan di baliknya. Mendidik bukanlah proyek tunggal, melainkan amanah kolektif.

 

Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologi berkembang, yang menentukan masa depan bangsa ini bukanlah kecerdasan buatan atau pembaruan gawai, melainkan kualitas manusia di belakangnya. Dan kualitas manusia selalu bermula dari pendidikan yang dirajut dengan ilmu, keteladanan, serta akhlak.

 

Guru memang orang biasa. Namun, ketika guru, orang tua, dan masyarakat mau berjalan beriringan, insyaallah akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas menaklukkan zaman, tetapi juga bijaksana dalam memimpin kehidupan. Dari sudut Margadana, asa itu terus kita rawat bersama. (*)

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: