Tanah Gerak Jangli Semarang Meluas 5 Meter, 15 Rumah Terdampak dan Relokasi Mulai Dikaji

Tanah Gerak Jangli Semarang Meluas 5 Meter, 15 Rumah Terdampak dan Relokasi Mulai Dikaji

TANAH GERAK: Tanah gerak di Jangli, Kota Semarang meluas, sebanyak 15 rumah terdampak dan akan dilakukan relokasi.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, Diswayjateng.comRelokasi warga wilayah RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang akan dilakukan seiring bertambah luasnya area tanah bergerak yang berdampak pada puluhan rumah serta akses warga. 

Dari musibah tanah gerak tersebut sedikitnya 15 rumah warga terdampak dan dua rumah di antaranya terpaksa dibongkar karena mengalami kerusakan berat dan terancam roboh. 

Data sementara di lapangan menunjukkan retakan tanah terus melebar. Dalam rentang waktu semalam hingga pagi hari, pergeseran tanah dilaporkan mencapai sekitar dua meter. Akibatnya, rekahan tanah kini melebar hingga kurang lebih lima meter dan tidak dapat dilalui kendaraan, termasuk sepeda motor.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan pemerintah kota telah menyiapkan langkah penanganan, termasuk rencana relokasi bagi warga terdampak. 

“Peristiwa tanah gerak ini bukan yang pertama kali terjadi di Semarang. Sebelumnya kejadian serupa juga pernah terjadi di wilayah Jomblang,” ujar Agustina, Kamis 12 Februari 2026. 

Menurutnya, relokasi menjadi salah satu opsi yang tengah dikaji. Namun proses tersebut memerlukan pendataan menyeluruh karena tidak semua warga memiliki sikap yang sama. 

“Terkait relokasi, tentu harus ditemukan tempat yang cukup. Ada warga yang setuju untuk direlokasi, ada juga yang menolak. Nanti akan kami data lebih dulu, mana yang bersedia dan mana yang tidak,” katanya. 

Ia menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama. Untuk langkah darurat, warga yang rumahnya berada di titik rawan diminta mengungsi sementara waktu. 

“Yang paling penting anak-anak yang sekolah harus tetap bisa sekolah. Untuk sementara saya sarankan sebagian warga mengungsi dulu ke rumah saudara terdekat,” ucapnya. 

Pemerintah kota juga telah menginstruksikan camat dan lurah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan. Sistem peringatan dini berbasis pengeras suara akan dipasang guna mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah lanjutan. 

Sementara itu, Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sudaryono, mengatakan warga bersama-sama melakukan kerja bakti membongkar bangunan yang dinilai paling berisiko guna menyelamatkan material yang masih bisa digunakan. 

“Total ada 15 rumah terdampak. Hari ini dua rumah yang kondisinya paling parah kami bongkar, yakni milik Bapak Slamet Riyadi dan Bapak Budi Darminto. Sebelumnya juga ada satu rumah milik Bapak Supriadi yang roboh lebih dulu,” jelas Joko. 

Ia menambahkan, satu rumah lainnya milik Supardi mengalami pergeseran struktur cukup signifikan sehingga harus segera dikosongkan demi keselamatan penghuni.

Untuk rumah yang masih dinilai relatif aman, warga memilih bertahan dengan meningkatkan pengawasan. Ronda malam diberlakukan untuk memantau perkembangan retakan tanah. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait