Angka Gizi Buruk di Grobogan Mencapai 146 Kasus, Satu Balita Meninggal Dunia

Angka Gizi Buruk di Grobogan Mencapai 146 Kasus, Satu Balita Meninggal Dunia

Kader Posyandu melaksanakan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Kamis 5 September 2024. (Achmad Fazeri/Diswayjateng.id)--

GROBOGAN, diswayjateng.id - Angka gizi buruk di wilayah Kabupaten Grobogan menujukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Pada tahun 2023, ada sebanyak 97 kasus. Kemudian, meningkat menjadi 146 kasus selama periode 2024 hingga Januari 2025.

Hal itu disampaikan Plt. Subkoordinator Gizi, Remaja, dan Lansia Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan, Rumia Magdalena, saat ditemui diswayjateng.id di depan aula pertemuan Dinkes Kabupaten Grobogan, Rabu 3 Maret 2025 siang.

“Ada satu balita meninggal dunia dari Kecamatan Kedungjati. Karena memang ada penyakit jantung bawaan dan juga sudah rutin periksa ke RSUD Kariadi Semarang. Jadi, kondisinya gizi buruk dengan penyakit penyerta,” jelasnya.

BACA JUGA:Rp2,7 Miliar Bankeu untuk Tekan Angka Gizi Buruk Masyarakat Blora

BACA JUGA:Balita Gizi Buruk Banjir Simpati, Kader PDIP Brebes Juga Ikut Menjenguk

Lena, sapaan akrab Rumia Magdalena, menyampaikan, sebagian besar balita yang mengalami gizi buruk diketahui punya penyakit penyerta. Selain jantung, ada pula tuberkulosis (TBC) dan bronkopneumonia.

“Rata-rata kasus gizi buruk dipicu oleh penyakit infeksi yang memperparah kondisi anak,” tegasnya.

Selain itu, Lena melanjutkan, kurangnya asupan nutrisi yang cukup menjadi faktor utama penyebab gizi buruk pada balita, terutama dari keluarga prasejahtera yang terbatas secara ekonomi.

Ia menyebut balita termuda yang mengalami gizi buruk berusia lima bulan. Kini sudah mendapat pendampingan dari petugas puskesmas setempat.

BACA JUGA:Tak Mampu Bayar Kontrol Lanjutan, Baznas Kota Tegal Beri Bantuan Balita Gizi Buruk

BACA JUGA:Ini Tiga Penyebab Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Grobogan Sepi Peminat

“Dari ratusan balita yang mengalami gizi buruk itu, sebagian menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, ada juga yang rawat jalan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: