Acara ini memadukan promosi batik lokal, edukasi lingkungan, dan pertunjukan musik orkestra dangdut.
Ribuan pengunjung, terutama kalangan muda, memadati lokasi wisata tersebut selama perhelatan berlangsung.
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam kegiatan pelestarian batik.
Ia menilai regenerasi budaya membutuhkan perpaduan antara pewarisan motif tradisional, inovasi, dan kebiasaan mengenakan batik.
“Bagaimana kita mewariskan motif-motif yang sudah diwariskan dari turun-temurun, terus kemudian melakukan inovasi,” ujar Faiz.
Ia juga mengajak masyarakat menumbuhkan kecintaan terhadap batik, terutama karya perajin Kabupaten Batang.
Faiz berharap Kenduri Batik dapat menjadi sarana kampanye budaya yang menjangkau anak-anak muda secara lebih luas.
“Dan kita berharap ini menjadi event tahunan,” katanya.
Di luar persoalan regenerasi, penyelenggara juga mengangkat hubungan antara batik dan kelestarian lingkungan.
Faelasufa menjelaskan, pemilihan Hutan Pinus Sikembang dilakukan secara sadar untuk menegaskan keterkaitan alam dengan inspirasi motif batik.
Menurutnya, dedaunan, bunga, burung, dan pepohonan menjadi bagian dari unsur alam yang kerap diterjemahkan ke dalam karya batik.
Ia mencontohkan motif Relawati pada batik yang dikenakannya, dengan unsur dedaunan dan bunga.
“Karena kalau enggak ada alam, budaya enggak akan ada, kemudian civilization manusia juga sudah enggak akan ada,” tuturnya.
Ia menegaskan, pengembangan industri batik perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Kita juga harus merawat alam,” tandasnya.
Pesan tersebut memberi dimensi lain pada Kenduri Batik, yang tidak hanya mempromosikan produk budaya, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga sumber inspirasi para pembatik.