Cuma Untung Rp100 per Potong, Perajin Tempe di Kebumen Terhimpit Tingginya Harga Kedelai
Suharti, perajin tempe rumahan di Desa Wera, Kecamatan Sruweng, Kebumen, tetap memproduksi tempe di tengah kenaikan harga kedelai.-diswayjateng/Muharom Adi Yuliarta-
KEBUMEN, diswayjateng.id – Perajin tempe rumahan di Kabupaten KEBUMEN terhimpit tingginya harga kedelai karena keuntungan semakin tipis. Suharti (47), perajin tempe asal Dusun Wera, Desa/Kecamatan Sruweng, mengaku hanya memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp100 untuk setiap potong tempe yang diproduksinya.
Dengan harga kedelai mencapai Rp13.500 per kilogram, Suharti harus bekerja keras mempertahankan usahanya. Apalagi, harga jual tempe tidak mudah dinaikkan karena harus menyesuaikan daya beli konsumen.
Dalam sehari, Suharti mengolah sekitar lima kilogram kedelai yang menghasilkan kurang lebih 200 potong tempe. Dari jumlah tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh hanya sekitar Rp20.000 per hari.
“Kalau sekilo kedelai harganya Rp13.500, itu kurang lebih bisa jadi 40 tempe. Kalau saya sehari produksi 5 kilo kedelai, ya kurang lebih bisa jadi 200 tempe siap jual,” ujar Suharti, Minggu (18/10/2026).
BACA JUGA: Launching Desa Sehat Mandiri Aisyiyah, PCA Margadana Tegal Gelar Pemeriksaan Kesehatan
BACA JUGA: Hockey Kebumen Bidik Emas Porprov Jateng 2026, 20 Atlet Bertolak ke Semarang
Ia menjelaskan, setiap kilogram kedelai dapat menghasilkan sekitar 40 potong tempe. Keuntungan bersihnya sekitar Rp4.000 per kilogram atau hanya Rp100 per potong.
Kondisi tersebut membuat kenaikan harga bahan baku menjadi persoalan serius bagi usaha kecil yang dijalankannya. Menurut Suharti, harga kedelai di pasaran Kebumen saat ini bervariasi antara Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
Ia menggunakan kedelai seharga Rp13.500 per kilogram untuk memenuhi kebutuhan produksi sehari-hari. Suharti juga merasakan harga bahan baku lebih tinggi dibandingkan sebelum musim kemarau.
Ketersediaan kedelai yang mulai sulit ditemukan, menurutnya, turut memengaruhi kenaikan harga. Sementara itu, ia harus tetap menjaga produksi agar bisa memenuhi permintaan pelanggan.
BACA JUGA: 100 Pesantren di Kebumen Belum Berizin Operasional, Kemenag Siapkan Pendampingan
BACA JUGA: 20.633 Santri Padati Pantai Setrojenar Kebumen, Pawai Budaya hingga Istighosah Meriahkan Hari Santri
Bertahan dengan Menekan Biaya Produksi
Suharti telah menjalankan usaha pembuatan tempe sejak 2011. Usaha itu awalnya bermula dari keinginannya mengisi waktu luang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
“Awalnya saya cuma buat ngisi waktu. Selesai ngurus rumah bingung enggak ada kegiatan, akhirnya belajar buat tempe terus saya kelilingkan ke warung-warung,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
