Masih ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama berkaitan dengan kesiapan mental menghadapi atmosfer pertandingan.
Dedi menilai persoalan tersebut menjadi penting karena para atlet akan berhadapan dengan pemain yang sebagian sudah mereka kenal.
"Kalau persiapan mungkin saya bilang 70 persen. Hanya beberapa faktor, karena kita main Porprov ini tensinya tinggi," kata Dedi.
Ia mencontohkan atlet Batang akan bertemu pemain dari Pekalongan maupun Semarang yang sebagian merupakan teman atau sudah dikenal dalam kompetisi sebelumnya.
Kondisi tersebut justru menjadi tantangan tersendiri. Para atlet harus tetap mampu bertanding secara serius meski menghadapi orang yang sudah mereka kenal.
"Ketika ketemu teman, kita tetap fight. Itu penting," ujarnya.
Dedi mengakui tidak mudah memastikan kapan kesiapan mental seluruh atlet mencapai 100 persen. Setiap atlet memiliki karakter dan respons berbeda ketika menghadapi pertandingan.
Menurut dia, sebagian atlet dapat memiliki kemampuan teknik yang baik, tetapi mengalami tekanan ketika menghadapi lawan tertentu. Rasa takut melakukan kesalahan dapat memengaruhi permainan.
Dedi menyebut persoalan psikologis sebagai salah satu aspek yang membutuhkan perhatian khusus. Ia mengaku bukan ahli psikologi sehingga aspek tersebut masih menjadi tantangan dalam pembinaan.
"Kalau kemampuan rata-rata semua sama. Kamu bisa habis, dia bisa habis. Jadi lebih ke situ," katanya.
POBSI Ingin Kembangkan Program Setelah Porprov
Selain mengejar prestasi di Porprov, POBSI Batang juga menyiapkan sejumlah rencana pengembangan setelah ajang tersebut selesai.
Arifudin menyebut salah satu gagasan yang pernah dibicarakan adalah menggelar turnamen antarkantor atau antarorganisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang.
Namun, program tersebut belum dilaksanakan karena fokus kepengurusan saat ini diarahkan pada persiapan Porprov.