Queena masih mengingat bagian menjelang perlombaan. Saat persiapan terakhir, ia merasa pertandingan akan berlangsung berat.
“Pas sebelum lari, yang hit terakhir itu kayak berat banget. Pokoke saingannya pada berat semua aslinya, tapi berkat doa aku bisa,” ujarnya.
Kalimatnya sederhana. Begitu pula cara Queena menceritakan kemenangan itu. “Senang,” jawabnya ketika ditanya perasaannya setelah menjadi juara.
Latihan menjadi bagian dari kesehariannya. Dalam sepekan, Queena berlatih tiga kali.
Yang membuatnya tetap berlatih bukan hanya keinginan sendiri. Ada orang tua dan guru yang terus mendorongnya. Bahkan sekarang ada perubahan kecil dalam rutinitasnya. Dulu, ibunya harus mengantar dan menjemput ketika Queena berlatih. Kini Queena mulai berangkat sendiri menggunakan sepeda.
“Kalau pas latihan, ayo Mah, berangkat. Nah, ini sekarang berangkat sendiri naik sepeda. Tadinya kan saya antar jemput,” kata Herlina Dwijayati, ibunda Queena.
Herlina sendiri tidak ingin terlalu menentukan masa depan anaknya. Sebab, atletik bukan satu-satunya hal yang disukai Queena.
Ia juga senang menggambar dan bernyanyi. Karena itu, bagi Herlina, yang terpenting adalah melihat anaknya tetap bersemangat menjalani apa yang disukainya.
“Ya saya manut anaknya saja. Dia semangat kok. Ya lah atlet semangat, dia ya masih nerusin gambarnya, semangat. Nyanyinya juga dia, suka nyanyi,” ujar Herlina.
Prestasi Queena pun tidak hanya tercatat dari lintasan atletik. Herlina menyebut putrinya juga pernah meraih prestasi dalam kegiatan lain, termasuk lomba menggambar dan FL2SN. Di bidang lari, sebelumnya Queena juga meraih juara pertama dalam ajang yang diikutinya sebelum melaju ke tingkat provinsi.
Kini, sebuah medali emas Popda Jawa Tengah menambah catatan tersebut. Bagi pelatih atletik sekaligus pengurus PASI, Jumanto, capaian itu tidak berdiri sendiri. Ada latihan. Ada pembinaan. Dan ada fasilitas yang harus disiapkan.
Pada Popda 2026, atletik mencatat dua emas dari nomor lari 60 meter putri serta satu perunggu dari nomor lempar lembing putra. Jumanto berharap perbaikan lapangan atletik bisa semakin mendukung pembinaan atlet.
“Alhamdulillah dibuatkan lapangan di GOR Sarengat diperbaiki. Semoga bisa menghasilkan atlet jarak pendek,” kata Jumanto.
Selama lintasan direhabilitasi, latihan atlet dilakukan di tempat lain, termasuk Dracik dan kawasan pantai. Dalam kondisi normal, latihan biasanya dilakukan empat kali dalam sepekan.
Peralatan atletik, menurut Jumanto, sudah cukup lumayan. Namun beberapa nomor tetap membutuhkan perlengkapan khusus.
Sepatu menjadi salah satunya. Dan bagi Queena, kebutuhan itu kini terasa lebih dekat untuk diwujudkan.