Jika dihitung selama 30 hari, jumlahnya mencapai sekitar 3.000 es krim.
Program tersebut sebenarnya bermula dari rencana yang lebih kecil. Bupati awalnya mengarahkan penyediaan 50 es krim per hari selama satu bulan.
Kuota itu kemudian ditambah menjadi 100 es krim setiap hari. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Kabupaten Batang, Budiono, mengatakan arahan tersebut segera ditindaklanjuti.
"Pak Bupati sudah ndawuh untuk dieksekusi secepatnya. Terus kami sudah menindaklanjuti, kami berkoordinasi dengan OPD terkait. Secara tataran teknis kita sudah merapat," kata Budiono.
Pembagian es krim mulai dilaksanakan pada Rabu 16 September 2026. Disperpuska menyiapkan kebutuhan teknis, termasuk freezer untuk menjaga es krim tetap beku.
Stok es krim akan diisi kembali sesuai kebutuhan. Penyediaannya dilakukan dengan menyesuaikan kuota 100 porsi setiap hari.
Budiono mengatakan anak-anak menjadi sasaran utama program tersebut. Namun, pelaksanaannya tetap menyesuaikan kondisi pengunjung di perpustakaan.
"Kita menyesuaikan, tapi kita utamakan yang anak-anak. Karena es krim itu identik dengan konsumsi atau makanan anak-anak," ujarnya.
Bagi Budiono, es krim bukan tujuan akhir. Ia hanya menjadi pemantik agar anak-anak memiliki alasan untuk datang ke perpustakaan.
"Yang lebih penting lagi, menumbuhkan minat baca, merangsang anak-anak, pengunjung perpus untuk datang. Kan itu bagian dari itu," katanya.
Arahan tersebut disampaikan Bupati Faiz saat membuka Festival Literasi di halaman Kantor Disperpuska Batang, Senin 14 September 2026. Saat itu, Bupati menyampaikan rencana pemberian 50 es krim setiap hari selama satu bulan.
“Strategi manis ini digagas untuk merangsang minat baca warga sejak dini. Nanti kita sediakan setiap hari 50 es krim untuk peminjam buku di perpustakaan ini selama sebulan ke depan. Jadi 50 es krim dikali 30 berarti berapa? 1.500 es krim akan kita sediakan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, jumlah tersebut bertambah menjadi 100 porsi sehari. Bila berlangsung selama 30 hari, sekitar 3.000 es krim disiapkan untuk pengunjung.
Tetapi angka 3.000 itu barangkali bukan bagian paling menarik.
Ada Laika yang datang sepulang sekolah. Ada waktu menunggu jemputan yang kemudian diisi dengan membaca.
Ada pula voucher yang dibawa turun dari lantai dua. Lalu, di dekat pintu masuk, voucher itu berubah menjadi sebungkus kecil kesenangan yaitu Es krim.