Ngebut Kejar Bansos, 300 Warga Semarang Tiap Bulan Ajukan Perubahan Data Desil 

Ngebut Kejar Bansos, 300 Warga Semarang Tiap Bulan Ajukan Perubahan Data Desil 

Sekitar 300 warga Kota Semarang setiap bulan mengajukan pembaruan data desil-Ilustrasi AI-Wahyu Sulistiyawan

SEMARANG, diswayjateng.id — Fenomena warga yang berupaya mengajukan pembaruan data agar masuk kelompok desil 1 hingga 4 menjadi perhatian dari perspektif sosial dan budaya. Di Kota Semarang, rata-rata sekitar 300 warga setiap bulan mengajukan pembaruan data desil sepanjang 2026. 

Kelompok desil 1 sampai 4 menjadi perhatian karena berkaitan dengan sejumlah program perlindungan sosial pemerintah. Di antaranya BPJS Kesehatan PBI, Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga program permodalan. 

Antropolog Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Nugroho Trisnu Brata mengatakan, tingginya minat masyarakat untuk masuk kelompok desil penerima bantuan perlu dilihat secara lebih luas. Menurutnya, fenomena tersebut dapat berkaitan dengan kemiskinan struktural maupun kemiskinan kultural. 

Kemiskinan struktural, kata dia, berkaitan dengan kondisi ketika kebijakan dan struktur sosial-ekonomi membuat sebagian masyarakat mengalami kesulitan untuk meningkatkan taraf hidup. 

Sementara kemiskinan kultural berkaitan dengan nilai, kebiasaan, dan pola pikir yang dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi kondisi kemiskinan. 

300 Warga Sebulan Ajukan Pembaruan Data 

Trisnu menilai keinginan masyarakat memperoleh bantuan tidak selalu berarti seluruh pengusul berada dalam kondisi miskin secara ekonomi. 

Menurut dia, terdapat kemungkinan sebagian warga melihat bantuan sosial sebagai salah satu cara untuk mengurangi tekanan kebutuhan hidup, terutama ketika pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran. 

“Orientasinya dapat bantuan dari pemerintah karena dianggap sebagai miskin ekstrem, atau miskin, atau ambang kemiskinan, atau rentan miskin. Bisa jadi, itu karena pengaruh dari budaya kemiskinan,” kata Trisnu, Kamis (17/9/2026). 

BACA JUGA:25 Relawan SAPA Tanjungmas Diperkuat, Siap Jadi Penggerak Perlindungan Perempuan dan Anak

BACA JUGA:Bakar Lahan Bekas Jagung, PMI Batang Latih Relawan Padamkan Karhutla

Ia mengatakan, kebutuhan ekonomi dapat mendorong seseorang mencari berbagai peluang untuk memperoleh keuntungan ekonomi. 

“Sepemahaman saya, ketika orang itu orientasinya mendapatkan keuntungan ekonomi, maka apa pun akan dilakukan. Terlebih di era sekarang yang sifatnya dipengaruhi oleh budaya material,” ujarnya. 

Tekanan Ekonomi Ikut Mendorong Warga 

Menurut Trisnu, fenomena tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan hidup masyarakat yang terus meningkat. Harga kebutuhan pokok dan tuntutan kehidupan sehari-hari membuat sebagian warga mencari cara untuk mengurangi beban pengeluaran. 

Dalam kondisi tersebut, label sebagai masyarakat miskin atau rentan miskin dapat dipandang sebagai pintu untuk memperoleh akses terhadap sejumlah program bantuan pemerintah. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait