Video sejumlah penampilan dalam SKNC 2026 kemudian beredar luas di media sosial dan memicu berbagai tanggapan. Salah satu penampilan yang menjadi sorotan memperlihatkan kostum serta adegan dengan visual menyeramkan yang oleh sebagian masyarakat dikaitkan dengan simbol atau ritual satanik.
Di tengah polemik yang meluas, Franky menyebut kondisi psikologis warga Simbang Kulon juga ikut terdampak.
Menurut dia, masyarakat setempat merasa syok setelah kegiatan yang sebenarnya dimaksudkan sebagai hiburan dan bagian dari tradisi masyarakat itu justru menjadi sorotan luas.
"Jujur terkait dengan ini masyarakat syok," ujar Franky.
Terlebih, polemik tersebut muncul bersamaan dengan kabar meninggalnya salah satu warga Simbang Kulon yang sebelumnya ikut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan karnaval.
Franky meminta masyarakat dari luar Simbang Kulon untuk melihat persoalan tersebut dengan empati.
"Apalagi kami baru kehilangan warga kami. Mohon empati dari masyarakat, karena kami juga kehilangan salah satu warga kami yang memang giat untuk pelaksanaan kegiatan," katanya.
Lurah Simbang Kulon Minta Maaf
Atas polemik yang muncul, Franky menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, terutama mereka yang merasa tersinggung dengan penampilan dalam Karnaval Pekalongan tersebut.