BOYOLALI, diswayjateng.id - Plt Kepala BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo mengatakan terdapat 10 kecamatan di Boyolali dalam kondisi kekeringan dan perlu penanganan serius. Ke-10 Kacamatan itu di antaranya, Kecamatan Wonosegoro, Wonosamodro, dan Juwangi.
"Ada 10 kecamatan yang benar benar terdampak kekeringan. Tapi saat ini masih konsen di Boyolali bagian utara, karena wilayah tersebut yang paling kekurangan air bersih," kata Ari Wahyu Prabowo, Selasa, 1 September 2026.
Ari menyampaikan, sejumlah wilayah di bagian utara Boyolali menjadi perhatian dalam penanganan dampak kekeringan. Dan BPBD Boyolali hingga kini masih terus melakukan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
"Total air bersih yang telah didistribusikan mencapai lebih dari dua juta liter," ungkapnya.
Untuk wilayah yang terdampak kekeringan, dropping air bersih masih terus dilakukan BPBD Boyolali. Meski demikian, BPBD Kabupaten Boyolali terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terjadi kebakaran hutan maupun lahan.
BACA JUGA: Peternak Boyolali Bagikan 108 Ekor Ayam, Bentuk Protes Harga Bahan Baku Pakan Tinggi
BACA JUGA: Tertimpa Teras Rumah Roboh di Klego Boyolali, Tukang Bangunan Alami Cidera Kaki dan Kepala
Imbauan juga dilakukan kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan hutan dan lahan, dimana musim kemarau ini mudah terjadi kebakaran lahan.
"Diperkirakan kemarau ini terjadi pada awal tahun 2027. Kami terus melakukan dropping air. Tapi tak kalah pentingnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kebakaran lahan dan hutan," pungkasnya.
BACA JUGA: Satlantas Polres Boyolali Imbau 11 PO Bus Koordinasi, Terkait Mobilisasi Massa ke Jakarta
BACA JUGA: Mobil Boks Hantam Honda Tiger di Boyolali Terbakar, Pengemudi Motor Tewas di Rumah Sakit
Sementara sejumlah warga terdampak kekeringan di Boyolali berharap, pemerintah tidak hanya memberikan bantuan air bersih tetapi juga mencari solusi permanen agar persoalan kekurangan air tidak terus berulang setiap tahun. Salah satu contoh, pembangunan sumur bor di Desa Ngaren.
"Dengan adanya sumber air permanen, warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh menyusuri medan terjal hingga masuk ke dalam hutan setiap kali kemarau panjang melanda," ujar Adiyanto, warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.