Di tengah dinamika tersebut, Gus Rozin panggilan KH Abdul Ghaffar Rozin, terus melakukan silaturahim dengan jajaran NU di berbagai daerah.
Dari Aceh hingga Sulawesi dan Gorontalo, ia menyampaikan gagasan mengenai penguatan organisasi dari tingkat cabang, pesantren, hingga jamaah.
Rangkaian pertemuan itu sekaligus menjadi ruang bagi Gus Rozin, untuk memperkenalkan gagasan kepemimpinannya.
Sejumlah pengurus NU daerah menilai, pengalaman organisasi dan rekam jejak Gus Rozin di lingkungan NU menjadi modal penting dalam pencalonan tersebut.
Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tengku Haji Faisal Ali menilai, pengalaman Gus Rozin mengelola organisasi NU telah teruji dalam berbagai situasi dan jenjang kepengurusan.
Menurut Faisal, pengalaman Gus Rozin tidak hanya berkaitan dengan tata kelola organisasi saja. Namun juga perjuangan memperkuat pesantren sebagai salah satu basis penting NU.
“Perjuangan yang berada di bawah komando Gus Rozin tentu tidak perlu lagi diragukan. Kapasitas, pengalaman, serta kepiawaian beliau dalam memimpin organisasi telah teruji dalam berbagai situasi,” ujar Faisal dalam pertemuan PWNU dan PCNU se-Aceh, 19 Agustus 2026.
Respons positif juga datang dari sejumlah pengurus cabang NU di Aceh. Rais Syuriyah PCNU Bener Meriah, menilai Gus Rozin memiliki loyalitas dan komitmen dalam menjalankan pengabdian di NU.
Sementara Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menyoroti pentingnya memperkuat NU dari akar utamanya, yakni pesantren. Ia berharap ada komitmen konkret untuk memperkuat pesantren apabila Gus Rozin mendapat amanah memimpin PBNU.
Penguatan NU dari Bawah
Gagasan Gus Rozin tidak hanya berbicara mengenai pergantian kepemimpinan. Ia menawarkan pola hubungan PBNU dengan struktur NU di daerah, yang lebih berfungsi sebagai penghubung, penguat, dan pembuka akses.
Menurut Gus Rozin, keberhasilan yang telah dicapai sebuah cabang seharusnya bisa dibagikan kepada cabang lain. Dengan demikian, setiap PCNU tidak perlu memulai program dari nol.
“Kalau satu PCNU sudah berhasil di satu bidang, PCNU lain tidak harus memulai semuanya dari nol,” ujar Gus Rozin.
Ia menilai PBNU tidak perlu mengambil alih seluruh pekerjaan di daerah. Sebaliknya, pusat harus mampu mempertemukan potensi, membuka akses, memberikan pendampingan, dan memperkuat kapasitas organisasi di tingkat bawah.
“NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya. Kalau mereka kuat, dengan sendirinya NU juga akan kuat,” katanya.
Konsep tersebut menjadi salah satu narasi utama yang dibawa Gus Rozin dalam rangkaian silaturahimnya. Penguatan PCNU, pesantren, jamaah, dan kemandirian organisasi ditempatkan sebagai fondasi untuk membangun NU yang lebih kuat.
Dengan pola tersebut, PBNU diharapkan tidak hanya menjadi pusat pengambilan keputusan, tetapi juga menjadi simpul yang menghubungkan berbagai potensi NU di seluruh Indonesia.