Menguatnya dukungan terhadap Gus Rozin, tidak terlepas dari perjalanan panjangnya di organisasi NU.I
a pernah menjadi Pengurus Pusat IPNU, Pengurus Pusat GP Ansor, Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU, Ketua RMI NU Jawa Tengah, Ketua RMI PBNU, Mustasyar PCNU Kabupaten Pati, hingga Katib Syuriyah PBNU.
Saat ini, Gus Rozin menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029 sekaligus Ketua Majelis Masyayikh.
Pesantren menjadi salah satu bidang yang menonjol dalam perjalanan pengabdiannya. Saat berada di RMI PBNU, Gus Rozin terlibat dalam sejumlah agenda penguatan pesantren dan santri.
Agenda yang sukses dikawal Gus Rozin yakni lahirnya Undang-Undang Pesantren, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, serta berbagai program peningkatan kapasitas pesantren.
Perhatian tersebut berlanjut ketika ia dipercaya berada di Majelis Masyayikh. Fokusnya antara lain penguatan mutu pendidikan pesantren dan Ma'had Aly. Selanjutnya memperjuangkan kepentingan pesantren dalam kebijakan pendidikan nasional.
Bagi Gus Rozin, pesantren bukan sekadar bagian dari tradisi NU. Pesantren merupakan salah satu fondasi utama, yang menentukan kekuatan organisasi dan keberlanjutan kaderisasi NU.
Bursa Ketum PBNU Menarik
Menjelang Muktamar, persaingan tidak hanya mempertemukan figur-figur dari internal PBNU. Sejumlah tokoh dengan latar belakang pesantren, kepengurusan wilayah, hingga pemerintahan turut masuk dalam pembicaraan.
Gus Yahya misalnya, kembali maju dengan membawa agenda untuk melanjutkan program kepengurusan sebelumnya. Sementara Gus Yusuf menyatakan kesiapan maju dan telah memperoleh dukungan dari sejumlah PCNU di Jawa Tengah.
Nama Gus Kikin, Gus Salam, KH Zulfa Mustofa, Nasaruddin Umar, hingga Hery Haryanto Azumi juga disebut dalam bursa. Banyaknya nama tersebut, menunjukkan kontestasi menuju Muktamar ke-35 berlangsung cukup dinamis.
Sementara itu, Gus Rozin memilih membawa isu penguatan organisasi dari bawah sebagai salah satu tawaran kepemimpinannya. Ia ingin cabang, pesantren, lembaga pendidikan, dan jamaah memiliki ruang lebih besar untuk berkembang.
Keputusan Gus Rozin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU disebut melalui proses panjang. Ia mengaku mempertimbangkannya melalui perenungan dan istikharah sebelum akhirnya memutuskan ikut dalam kontestasi.
“Saya ingin proses ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menentukan arah NU ke depan,” katanya.
Kini, waktu menuju Muktamar ke-35 NU tinggal hitungan hari. Konsolidasi dan komunikasi antarstruktur NU di berbagai daerah terus berlangsung.
Di tengah banyaknya nama yang muncul, para peserta Muktamar nantinya akan menentukan siapa yang dinilai paling tepat memimpin PBNU untuk periode berikutnya.
Bagi Gus Rozin, kontestasi tersebut bukan semata soal perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Ia membawa gagasan agar kekuatan NU tidak hanya bertumpu di tingkat pusat saja. Namun juga tumbuh dari cabang, pesantren, lembaga pendidikan, dan jamaah.