Pembangunan Perumahan di Hulu Disorot, Debit Air Mangunsari Semarang Menurun
Kekurangan air bersih dialami sekitar 70–80 KK di RT 2 RW 2 Mangunsari, Gunungpati, Semarang. Debit mata air menurun saat kemarau dan diduga dipengaruhi perubahan kawasan hulu serta penebangan pohon.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, diswayjateng.id — Kekurangan air bersih mulai dialami sekitar 70 hingga 80 kepala keluarga (KK) di RT 2 RW 2, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati, Kota SEMARANG, setelah debit sumber air yang selama ini digunakan warga mengalami penurunan pada musim kemarau tahun ini.
Kondisi tersebut telah dirasakan warga sekitar satu pekan terakhir. Distribusi air kemudian harus dilakukan secara bergiliran pada siang dan malam hari karena sumber air yang tersedia tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga secara normal.
Kekurangan air bersih di Mangunsari diduga berkaitan dengan berkurangnya debit mata air di kawasan hulu. Penebangan pohon dan pengembangan lahan untuk perumahan juga disebut warga serta BPBD Kota Semarang sebagai faktor yang diduga ikut memengaruhi kondisi sumber air.
Warga RT 2 RW 2, Kelurahan Mangunsari, Wahidatul Isro'i, mengatakan kekeringan baru pertama kali dirasakan di wilayahnya pada tahun ini.
"Belum pernah. Baru tahun ini. Tahun kemarin aman," katanya kepada diswayjateng.id, Rabu (27/8/2026).
BACA JUGA:Solidaritas Anak Batang, Ketika Celengan Ikan Salwa dan Kaleng Hamizan untuk NTT
Menurut Wahidatul, berkurangnya air mulai terlihat ketika suhu panas meningkat dan sejumlah mata air di kawasan tersebut mengalami penyusutan.
"Karena pengaruh mungkin panas yang tinggi. Banyak mata air yang berkurang," ujarnya.
Selain faktor cuaca, penebangan pohon di kawasan sekitar hulu juga dinilai berpotensi memperparah berkurangnya ketersediaan air. "Banyak pohon sekarang ditebang, jadi ya itu mungkin berkurang," katanya.
Air Mulai Digilir
Warga disebut mulai mengalami kesulitan mendapatkan air sejak sekitar satu minggu terakhir. Penggunaan air yang sebelumnya dapat dilakukan secara normal kini harus disesuaikan dengan jadwal distribusi.
"Untuk air artetis belakangan ini airnya mulai berkurang, jadi giliran terus. Yang air gunung juga mata airnya mulai mengecil," kata Wahidatul.
Air yang digunakan warga berasal dari dua sumber, yakni air artetis dan mata air pegunungan. Ketika debit kedua sumber tersebut menurun, kebutuhan air warga harus dipenuhi secara bergantian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

