Petani Garam Rembang Menjerit, Panen Melimpah tapi Harga Anjlok

Kamis 20-08-2026,18:49 WIB
Reporter : Erna Yunus Basri
Editor : M. Fatkhurohman

REMBANG, diswayjateng.id — Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menjadi pisah bermata dua bagi para petani garam lokal. Kendati cuaca terik mempercepat proses kristalisasi dan meningkatkan volume produksi, harga jual garam di tingkat petani justru merosot tajam.

​Sami Teguh, seorang petani garam asal Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, mengungkapkan bahwa kekeringan yang berlangsung sejak Juni lalu membuat proses pembuatan garam jauh lebih cepat karena air laut lebih lekas matang.

​"Kemarau tahun ini termasuk yang paling panjang. Dari bulan enam sampai sekarang belum ada hujan sama sekali. Kalau dari sisi produksi memang lebih bagus dan pembuatannya mudah karena air cepat tua dipanaskan," ujar Sami saat ditemui di tambaknya, Kamis sore, 20 Agustus 2026.

BACA JUGA:  Spesialis Bobol Rumah Malam Hari di Blora Diringkus, Pelaku Ternyata Residivis

BACA JUGA:  Kawal RUU Perampasan Aset, Belasan Aktivis AMPB Pati Bertolak ke Gedung DPR RI

​Namun, melimpahnya pasokan garam musim ini tidak sebanding dengan tingkat harga di pasaran. Sami menyebutkan bahwa pada musim panen tahun lalu, harga garam sempat menyentuh angka Rp1.700 per kilogram, dengan titik terendah di kisaran Rp1.100 per kilogram.

​Kondisi tersebut berbalik signifikan pada musim panen tahun ini. Harga awal panen yang sempat dibuka pada angka Rp1.200 per kilogram terus merosot hingga menyentuh Rp700 per kilogram. Bahkan, harga sempat menyentuh titik terendah di tingkat Rp650 per kilogram sebelum perlahan beranjak naik.

​"Biasanya kalau pembuatannya mudah, harganya memang jadi terlalu murah. Untuk lahan seluas ini, sekali panen sehari bisa dapat sekitar setengah ton (500 kg). Kalau harganya Rp700, pendapatan kasar hanya sekitar Rp350 ribu per panen, itu pun dipotong ke tengkulak atau makelar," tuturnya.

BACA JUGA:  Satpolairud Polresta Pati Edukasi Keselamatan Perairan kepada 182 Siswa TK Kemala Bhayangkari

BACA JUGA:  Pembukaan Rembang Imagination 2026: Pameran Bonsai Nasional Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rembang

​Selain persoalan fluktuasi harga, para petani garam di Desa Gedongmulyo juga menghadapi kendala tingginya biaya modal kerja, khususnya pengadaan terpal geomembran. Untuk satu gulung terpal ukuran 4 x 50 meter yang hanya cukup untuk satu petak meja garam (mejanan), petani harus merogoh kocek hingga Rp2,8 juta.

​Di sisi lain, Sami menyoroti mekanik distribusi bantuan sarana prasarana dari dinas terkait, seperti terpal, alat angkut (angkong), hingga bibit ikan yang dinilai kerap tidak tepat sasaran dan belum tersalurkan secara merata kepada petani penggarap murni.

​"Bantuan dari Dinas Perikanan itu sebenarnya ada, tapi saya pribadi tidak pernah dapat. Cara survei di lapangannya seperti apa kita tidak tahu. Biasanya yang dapat hanya orang-orang yang dekat dengan lingkaran serikat. Sementara petani asli yang posisinya jauh justru sering terlewat," pungkas Sami.

Kategori :