Ia kemudian ikut mengantre bersama warga lainnya.
Hal serupa disampaikan Wandi (50), warga Kauman, Kecamatan Batang. Ia mengaku senang mendapatkan ayam secara cuma-cuma dari para peternak.
“Ya senang,” ujar Wandi.
Wandi mengatakan ayam tersebut akan dimasak menjadi hidangan opor untuk keluarga. “Buat opor,” ungkapnya.
Aksi tersebut memperlihatkan ironi di tengah persoalan harga pangan.
Masyarakat menyambut gembira ketika memperoleh sumber protein gratis, sementara peternak justru mengaku kesulitan mempertahankan usaha karena tekanan harga.
Bagi peternak, persoalan utama bukan sekadar bagaimana ayam bisa dibagikan kepada warga.
Mereka menunggu kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan harga sehingga usaha peternakan rakyat tetap bisa berjalan.
Joko berharap pemerintah merespons tuntutan peternak dalam waktu yang telah diberikan.
Jika tidak, KPUS Batang menyatakan siap menggelar aksi lanjutan dengan jumlah ayam yang dibagikan jauh lebih besar.