Di Rumah, Bupati Batang M Faiz Kurniawan Cuma Mau Dipanggil Ayah

Senin 29-06-2026,13:48 WIB
Reporter : Bakti Buwono
Editor : Ismail F

Ia percaya kualitas kebersamaan lebih penting. Meski waktunya singkat, perhatian harus utuh. Anak harus merasa ayah benar-benar hadir untuk mereka.

Fenomena fatherless, menurutnya, semakin mengkhawatirkan. Banyak ayah berada di rumah. Namun, perhatian justru tertuju pada pekerjaan atau telepon genggam.

Akibatnya, anak kehilangan ruang bercerita. Mereka tumbuh tanpa kedekatan emosional. Padahal, kehadiran ayah membentuk rasa aman dalam keluarga.

Faiz mengingatkan pembangunan bangsa selalu dimulai dari rumah. Jalan yang mulus tidak cukup. Gedung yang megah juga belum menjamin masa depan.

Bangsa membutuhkan manusia berkualitas. Karakter itu dibentuk melalui keluarga. Orang tua menjadi guru pertama bagi setiap anak.

Ia juga menyinggung bonus demografi Indonesia. Kesempatan besar itu harus disambut keluarga yang kuat. Anak-anak perlu tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter.

Karena itu, keluarga harus memperhatikan gizi anak. Pendidikan karakter juga harus dimulai sejak dini. Ketahanan mental menjadi bekal menghadapi masa depan.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, tantangan semakin besar. Gawai sering merebut perhatian keluarga. Komunikasi perlahan mulai berkurang.

Bupati Batang mengajak para orang tua mengubah kebiasaan tersebut. Letakkan telepon genggam sejenak. Dengarkan cerita anak tanpa tergesa-gesa.

Baginya, pelukan sederhana memiliki arti besar. Percakapan singkat mampu membangun ikatan kuat. Anak akan selalu mengingat perhatian orang tuanya.

Pesan itu lahir dari pengalaman pribadi. Seorang bupati boleh memiliki banyak agenda. Namun, di rumah, ia tetap seorang ayah bagi dua balitanya.

Kategori :