Masker itu kemudian dipasarkan melalui jaringan relasi dan berbagai expo UMKM.
Hasilnya perlahan mulai terlihat. Salah satu produknya bahkan ikut dibawa ke Dubai.
“Yang harusnya saya jual Rp30 ribu, di Dubai dijual Rp100 ribu,” katanya.
Pandemi akhirnya menjadi titik balik perjalanan bisnis Nurita. Ia belajar membaca perubahan kebutuhan masyarakat dengan cepat.
Nurita Wahyu Kusuma menunjukkan berbagai produk olahan kain batik di rumahnya belum lama ini-Disway Jateng/ Bakti Buwono-
Saat masyarakat membutuhkan masker, dirinya menghadirkan produk yang memiliki nilai estetika.
Produk masker batiknya dipromosikan melalui berbagai komunitas dan jaringan digital.
Masker batik tidak hanya dipakai sebagai alat pelindung. Namun juga menjadi bagian gaya hidup selama pandemi.
Banyak konsumen mencari masker dengan desain unik dan nyaman digunakan. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan Nurita.
Ia mengaku tidak pernah menyangka produk sederhana seperti masker mampu menyelamatkan usaha.
Inovasi itu menjadi penyelamat usaha di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pendapatan dari masker membantu Nurita memutar kembali modal bisnisnya. Usaha batik dan craft perlahan kembali berkembang.
Menurut Nurita, limbah dan barang reject sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi tinggi.
Asalkan diolah dengan kreativitas dan keberanian mencoba.
Ia mengaku tidak pernah ingin terlalu lama terjebak dalam kesulitan. Baginya, tantangan harus dijawab dengan gerakan.
Karena itu dirinya terus mencoba berbagai produk baru. Mulai dari craft, masker, hingga batik warna alam.