BATANG, diswayjateng.com — Harapan baru tumbuh di tengah lahan asin pesisir Kabupaten Batang, saat padi Bio Salin mulai menunjukkan hasil nyata.
Panen perdana yang dilakukan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) menjadi penanda bahwa lahan terdampak rob bukan lagi wilayah yang “mati” bagi petani.
Sekretaris Dispaperta Batang, Syam Manohara, mengungkapkan hasil ubinan terbaru mencapai 3,1 kilogram.
Angka tersebut jika dikonversikan setara dengan produktivitas sekitar 4 hingga 5 ton per hektare.
BACA JUGA: Cerita PKK Batang Sulap Minyak Jelantah jadi Cuan hingga Pecahkan Rekor
BACA JUGA: Awasi Gadget Anak, Batang Akan Gandeng Sekolah hingga PKK
“Perkembangan terakhir kita sudah berhasil panen, dan hasilnya cukup menjanjikan untuk lahan terdampak salinitas,” ujarnya, Sabtu pagi 11 April 2026.
Meski belum menyamai sawah normal yang bisa menghasilkan 7 hingga 8 ton per hektare, capaian ini dinilai sebagai lompatan penting.
Sebab, lahan yang sebelumnya tidak bisa ditanami kini mulai produktif kembali.
Bagi pemerintah daerah, nilai utama dari Bio Salin bukan hanya pada hasil panen, tetapi pada perluasan lahan tanam.
BACA JUGA: HUT ke-60 Batang, Tari Babalo dan Minyak Jelantah Pecahkan Rekor Dunia MURI
BACA JUGA: Cegah Kecacingan, Ribuan Siswa SDN di Batang Diberi Obat Gratis
“Yang penting sekarang lahan yang tadinya tidak bisa ditanami, sudah bisa dimanfaatkan,” tegas Syam.
Namun, ia mengingatkan bahwa produktivitas masih dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kualitas benih, pemupukan, hingga gangguan organisme tanaman.
Karena itu, evaluasi dan pengembangan masih terus dilakukan untuk menjaga stabilitas hasil.