Ia mengaku melakukan persiapan selama satu hingga dua minggu bersama Romo dan tim liturgi.
“Ini pertama kali saya memerankan Yesus, saya berusaha mendalami peran dan merasakan penderitaan-Nya,” ujarnya.
Dalam adegan tersebut, ia harus menjalani momen jatuh hingga tiga kali saat memanggul salib.
Adegan itu dilakukan secara nyata sebagai bentuk penghayatan iman.
“Salib itu berat, seperti memanggul dosa manusia, jadi ada momen jatuh berkali-kali,” jelasnya.
Selain kesiapan fisik, ia juga menguatkan diri melalui doa selama proses persiapan.
Perayaan Paskah tahun ini juga membawa pesan yang lebih luas bagi umat.
Momentum ini diharapkan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga bumi dan merawat perdamaian.
“Semoga kita semakin mencintai bumi sebagai rumah bersama dan menghadirkan damai,” tuturnya.
Melalui rangkaian Pekan Suci ini, umat Katolik di Batang tidak hanya mengenang kisah sengsara dan kebangkitan Yesus.
Mereka juga diajak menghidupi nilai pengorbanan, kasih, dan harapan dalam kehidupan sehari-hari.