Jalan Salib Kolosal di Semarang, 50 Pemeran Hidupkan Sengsara Yesus Secara Dramatis
Visualisasi Jalan Salib kolosal di Gereja St. Theresia Bongsari, Semarang, menghadirkan kisah sengsara Yesus secara dramatis dan emosional.-Wahyu Sulistiyawan-Wahyu Sulistiyawan
SEMARANG, Diswayjateng.com — Teriakan “Salib… salib… salib…” menggema di halaman Gereja St. Theresia Bongsari, Jalan Puspowarno, Semarang Barat, Jumat 3 April 2026 pagi. Suasana yang semula hening mendadak berubah dramatis ketika puluhan pemeran memasuki adegan visualisasi Jalan Salib atau Via Dolorosa, yang digelar sebagai puncak perenungan umat Katolik dalam rangkaian Tri Hari Suci pada perayaan Paskah.
Peristiwa yang telah berlangsung secara kolosal tersebut menjadi salah satu bentuk penghayatan iman yang tidak hanya disaksikan, tetapi juga dirasakan secara emosional oleh umat.
Kisah sengsara Yesus Kristus yang telah berusia lebih dari dua milenium itu kembali dihidupkan melalui peran para pemuda dan pemudi gereja.
Dalam pelaksanaannya, visualisasi Jalan Salib telah disiapkan dengan konsep yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah pemain yang dilibatkan telah ditingkatkan secara signifikan, dari belasan menjadi sekitar 40 hingga 50 orang.
Sutradara kegiatan dari Orang Muda Katholik (OMK), Emmanuel Darryl Girvan, menjelaskan bahwa kisah yang diangkat diambil dari Injil Yohanes dan disusun secara runtut mulai dari Taman Getsemani hingga peristiwa penyaliban.
“Untuk pagi ini kami mengangkat cerita dari Injil Yohanes, di mana ini juga menjadi salah satu rangkaian dari acara Paskah di Gereja Bongsari yaitu visualisasi penyaliban Yesus Kristus. Di sini kami menceritakan tentang apa yang terjadi sebenar-benarnya,” ujarnya kepada Disway jateng.
Konsep kolosal dipilih agar penyampaian cerita dapat dilakukan secara lebih kuat dan menyentuh. Selain jumlah pemain yang ditambah, properti dan tata panggung juga telah dibuat lebih maksimal.
Kostum Romawi dan Persiapan Intensif
Dalam mendukung visualisasi yang autentik, kostum yang digunakan telah dirancang menyerupai zaman Romawi. Kostum tersebut sebagian dipinjam dari gereja lain seperti Prapyak, Karang Panas, dan Dirono, serta sebagian berasal dari koleksi internal gereja.
Seluruh pemeran telah diarahkan untuk tampil tanpa riasan berlebihan guna menjaga kesan natural. Bahkan, pemeran Yesus disebut memiliki tingkat kemiripan hingga 90 persen.
“Pemeran Yesusnya kita impor dari Unika, dia keturunan Belgia. Jadi kemiripannya bisa dibilang 90 persen karena janggut dan rambutnya asli, tanpa make up,” kata Emmanuel.
Persiapan kegiatan ini telah dimulai sejak Januari, dengan latihan intensif yang dilakukan sejak Februari. Waktu yang relatif singkat tersebut dimaksimalkan untuk menghasilkan pertunjukan yang tetap berkualitas.
Tema yang diangkat dalam visualisasi tahun ini adalah “Sakrifisium Domini” atau pengorbanan Tuhan. Tema tersebut dipilih untuk mengajak umat merenungkan makna terdalam dari wafatnya Yesus.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

