“Kalau ada yang tertidur, bisa gosong karena dimasak pakai kayu bakar,” ujarnya.
Penggunaan kayu bakar menjadi bagian dari metode tradisional yang tetap dipertahankan.
Proses memasak juga diiringi kegiatan spiritual.
Panitia melakukan iktikaf dan zikir selama proses berlangsung.
Doa-doa dipanjatkan agar lopis matang sempurna.
Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Syawalan.
Nilai spiritual menyatu dengan proses budaya.
Tahun ini terdapat sejumlah peningkatan.
Salah satunya dari sisi kebersihan atau higienitas.
Selain itu, ukuran lopis juga lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.
“Tahun ini lebih higienis dan ukurannya lebih besar,” kata Balgis.
Meski sarat tradisi, lopis tidak memiliki unsur mistis.
Balgis menegaskan bahwa makna utama lopis adalah sosial.
Lopis menjadi simbol persatuan dan kebersamaan.
“Ini murni untuk mempererat silaturahmi,” tegasnya.