Sementara kambing sekitar 35 ribu dan domba 25 ribu ekor.
Belum lagi unggas yang jumlahnya mendekati 4 juta ekor.
Semua itu berada dalam pengawasan satu dokter hewan.
“Bayangkan satu orang harus menangani berbagai jenis komoditas dengan wilayah yang luas,” ujar Syam.
Untuk membantu, terdapat sekitar 23 hingga 26 paramedis veteriner di lapangan.
Namun, peran mereka tidak sepenuhnya bisa menggantikan dokter hewan.
Mereka tetap harus bekerja di bawah pengawasan medis veteriner.
Dalam praktiknya, diagnosis penyakit hingga pemberian obat harus melalui persetujuan dokter hewan.
Hal ini membuat respons cepat di lapangan seringkali terkendala.
“Paramedis tidak bisa langsung menentukan dosis atau tindakan tanpa penyeliaan dokter,” jelasnya.
Kondisi ini semakin terasa saat terjadi wabah penyakit ternak seperti PMK.
Tim di lapangan harus bekerja ekstra dengan sistem koordinasi jarak jauh.
Dokter hewan memantau melalui video call untuk memastikan penanganan tetap sesuai prosedur.
“Dokter Ambar harus memonitor 24 jam, bahkan lewat video call untuk pengobatan dan vaksinasi,” kata Syam.
Dalam situasi darurat, pemisahan tim vaksinasi dan pengobatan pun sulit dilakukan.
Padahal secara ideal, keduanya harus berjalan terpisah.