Siswanto juga mengungkap adanya laporan dugaan keracunan makanan di SD Karangasem 1. Seorang guru olahraga bernama Agung dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi roti dari paket makanan MBG.
Selain persoalan kualitas makanan, Siswanto juga menyoroti dugaan ketidakwajaran dalam perhitungan anggaran penyediaan makanan.
Ia mencontohkan harga susu kotak kecil yang di pasaran berkisar Rp2.200 hingga Rp2.500, namun dalam perhitungan anggaran disebut mencapai Rp4.000.
Menurutnya perbedaan harga tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut agar tidak menimbulkan kecurigaan di masyarakat.
Untuk paket makanan bagi siswa TK hingga kelas 3 SD yang dialokasikan sekitar Rp8.000 per porsi, ia juga menilai terdapat kemungkinan permainan dalam komposisi menu.
Ia menduga beberapa item makanan bernilai murah dimasukkan untuk memenuhi nominal anggaran yang telah ditetapkan.
“Kalau benar seperti itu, tentu harus dievaluasi karena ini menyangkut kepercayaan publik,” kata Siswanto.
Dalam penelusurannya, Siswanto juga mengaku memperoleh informasi mengenai dugaan pengurangan kuantitas bahan baku makanan oleh pihak penyedia.
Ia mencontohkan kebutuhan daging ayam yang seharusnya lima kuintal disebut hanya digunakan sekitar empat setengah kuintal.
Namun ia menegaskan temuan tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang. Selain itu, ia juga menerima laporan adanya makanan yang tidak habis dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Menurutnya praktik tersebut perlu diawasi agar tidak terjadi pengemasan ulang makanan yang sudah tidak layak. Atas berbagai temuan tersebut, Siswanto mengaku telah menyampaikan laporan kepada posko pengaduan MBG yang dibentuk oleh Wakil Bupati Batang.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di lapangan.
Menurutnya tujuan utama program ini sangat baik, yakni meningkatkan asupan gizi siswa, sehingga pelaksanaannya harus benar-benar diawasi dengan ketat.
Sebagai alternatif, ia juga mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan mekanisme penyaluran bantuan secara langsung kepada siswa.
Salah satu skema yang menurutnya dapat dipertimbangkan adalah sistem transfer bantuan pendidikan seperti pada Program Indonesia Pintar (PIP).
“Mungkin bisa dipikirkan mekanisme yang lebih efektif agar bantuan benar-benar dirasakan siswa dan tidak banyak makanan yang terbuang,” ujarnya.