Selain kekurangan guru, Benny juga menerima laporan bahwa sejumlah jabatan kepala sekolah di Kabupaten Batang saat ini masih kosong.
Akibatnya, beberapa sekolah terpaksa dipimpin oleh kepala sekolah yang merangkap jabatan di lebih dari satu tempat.
“Saya juga mendapat laporan banyak jabatan kepala sekolah yang kosong atau harus dirangkap,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Batang, M Arief Rohman, menyebut kekurangan guru di Batang terjadi akibat beberapa faktor.
Mulai dari pensiun massal, guru yang meninggal dunia, hingga promosi jabatan yang membuat posisi guru di kelas menjadi kosong.
Berdasarkan perhitungan Disdikbud Batang, sebelumnya terdapat 958 posisi guru yang kosong.
Namun jumlah tersebut diperkirakan kini sudah mendekati 1.000 kekurangan guru.
“Perhitungan kami kemarin sudah 958 guru kosong, sekarang kemungkinan sudah tembus 1.000,” kata Arief di kantornya, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menegaskan krisis guru tersebut bukan sekadar angka statistik, tetapi masalah nyata yang setiap hari dirasakan di ruang kelas.
Beberapa sekolah di daerah pinggiran bahkan kesulitan mencari guru pengganti karena lokasi yang jauh dari pusat kota.
Menurut Arief, program rekrutmen PPPK belum menjadi solusi untuk menambah jumlah tenaga pengajar.
Ia menjelaskan kebijakan PPPK pada dasarnya hanya mengubah status kepegawaian guru yang sudah mengajar sebelumnya.
“PPPK itu hanya ganti baju status, orangnya masih sama, yang pensiun tetap kosong,” ujarnya.
Akibat kekurangan guru, sejumlah sekolah terpaksa menerapkan berbagai cara agar proses belajar mengajar tetap berjalan.
Di tingkat sekolah dasar, beberapa sekolah bahkan menerapkan kelas rangkap, di mana satu guru mengajar dua kelas sekaligus.
Sementara di tingkat SMP, beberapa guru mulai mengajar berdasarkan rumpun ilmu agar dapat menangani lebih dari satu mata pelajaran.