Parade Planet dan Gerhana Bulan 3 Maret, Astronom UIN Walisongo: Jangan Dikaitkan dengan Mitos Bencana

Minggu 01-03-2026,06:00 WIB
Reporter : Wahyu Sulistiyawan
Editor : Laela Nurchayati

SEMARANG, Diswayjateng.com – Fenomena astronomi berupa parade planet yang terjadi pada Satu 28 Februari 2026 petang ini berdekatan dengan gerhana bulan diprediksi terjadi pada 3 Maret mendatang. Momen langka ini diperkirakan dapat diamati pada malam hari setelah Magrib, sekitar 30 menit kemudian, bergantung pada kondisi cuaca.

Kepala Planetarium UIN Walisongo Semarang, Ahmad Syaiful Anam, mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena tersebut dengan mitos atau kekhawatiran berlebihan soal bencana alam.

“Sering muncul anggapan jangan-jangan gunung meletus, tsunami, atau bencana besar lainnya. Secara astronomis, kekhawatiran itu tidak terlalu beralasan karena pengaruh gravitasinya sangat kecil,” ujar Anam saat dikonfirmasi Diswayjateng.id, Sabtu 28 Februari 2026.

Menurut dia, dalam prinsip astronomi, seluruh benda langit memang saling tarik-menarik melalui gaya gravitasi. Namun, besar kecilnya pengaruh ditentukan oleh massa dan jarak.

Ia menjelaskan bahwa meski planet-planet seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus berukuran besar, jaraknya yang sangat jauh dari Bumi membuat dampak gravitasinya nyaris tak signifikan.

“Kalau digabungkan pun, pengaruh gravitasi planet-planet itu tidak lebih besar dari pengaruh gravitasi Bulan terhadap Bumi. Bahkan bisa dibilang kurang dari satu persen dibanding efek Bulan,” tegasnya.

Sebagai perbandingan, pengaruh gravitasi Bulan terhadap Bumi tampak nyata melalui fenomena pasang surut air laut. Sementara itu, deretan planet dalam parade tidak cukup kuat untuk memicu perubahan besar pada atmosfer, periode rotasi Bumi, maupun aktivitas geologi.

“Jangan dibayangkan seperti tarik tambang, seolah-olah planet-planet raksasa itu menarik Bumi bersama-sama. Secara ilmiah tidak seperti itu,” katanya.

Parade planet atau planetary alignment terjadi ketika sejumlah planet tampak berada di satu jalur lengkung yang sama di sepanjang garis ekliptika. Secara visual, dari Bumi, planet-planet tersebut terlihat seperti berbaris.

“Secara astronomis tidak benar-benar lurus seperti baris-berbaris. Tapi dari perspektif pengamat di Bumi, terlihat seolah sejajar dalam satu garis,” jelas Anam.

Dalam fenomena kali ini, sejumlah planet yang berpotensi tampak antara lain Merkurius, Venus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus. Beberapa di antaranya dapat dilihat dengan mata telanjang, terutama Merkurius dan Venus, selama langit cerah dan tidak tertutup awan.

Adapun planet yang lebih jauh seperti Jupiter, Uranus, dan Neptunus memerlukan bantuan teleskop agar dapat diamati lebih jelas. Tanpa alat optik, planet-planet tersebut hanya tampak seperti titik cahaya kecil di langit.

“Planet besar belum tentu terlihat besar. Jupiter memang raksasa, tapi karena jaraknya sangat jauh, dari Bumi tampak kecil seperti bintang,” ujarnya.

Fenomena parade planet kali ini berdekatan dengan peristiwa gerhana bulan pada tanggal yang sama. Namun, Anam menegaskan keduanya tidak saling memicu dampak besar.

“Gerhana tetaplah gerhana yang secara ilmiah biasa saja. Memang ada interaksi gravitasi, tapi tidak signifikan untuk menimbulkan dampak luar biasa di Bumi,” katanya.

Kategori :