SLAWI, diswayjateng.com – Malam tak lagi menghadirkan ketenangan bagi warga Dukuh Belimbing RW 09, Desa Kajen, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal. Setiap rintik hujan turun, dada mereka berdegup kencang. Tanah di tepi Sungai Gung terus bergerak, menggerus daratan yang dulu luas, kini tinggal kenangan.
Ketua RW 09 Desa Kajen, Muhajir, menuturkan, kondisi saat ini jauh lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu jarak rumah ke Sungai Gung sekitar 100 meter. Sekarang sudah tidak ada jarak. Rumah-rumah di tepi sungai sudah hancur,” kata Muhajir, saat ditemui di lokasi, Minggu (22/2/2026) sore.
Bahkan, kedalaman tebing sungai yang dulunya hanya sekitar 5 meter kini menganga hingga 40 meter. Setiap debit air meningkat, arus sungai menghantam daratan tanpa ampun. Tanah tergerus, longsor tak terhindarkan.
Data yang dihimpun menyebutkan, sebanyak 21 rumah roboh, satu musala dan satu madrasah ikut rata dengan tanah. Sementara 35 rumah lainnya mengalami retak-retak parah dan terancam menyusul. Total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah hingga miliaran.
“Kalau hujan deras, kami tidak bisa tidur. Waswas terus. Takut tiba-tiba tanah ambles,” kata Muhajir panik.
Saat ini, para penghuni rumah yang terdampak sudah mengungsi. Sebagian tinggal di posko pengungsian, sebagian lainnya menumpang di rumah kerabat. Bencana tanah bergerak dan longsor ini sudah berlangsung sekitar tiga pekan, hampir bersamaan dengan kejadian serupa di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara.
Muhajir bersyukur Pemerintah Kabupaten Tegal bergerak cepat. Bupati Tegal bahkan beberapa kali turun langsung mengecek kondisi warga dan mendata kerusakan. Pemkab Tegal memastikan para korban bakal mendapatkan hunian tetap (huntap) di Griya Slawi Ayu, sekitar dua kilometer dari lokasi bencana.
“Warga tidak dipungut biaya. Tinggal masuk, langsung terima kunci. Lokasinya aman,” sambungnya.
Salah satu korban, Prio (47), warga RT 03 RW 09 Desa Kajen, masih bertahan di rumahnya yang sudah retak dan bergeser. Dinding tembok tak lagi simetris. Bagian dapur, kamar mandi, dan ruang tengah mengalami kerusakan paling parah.
“Kalau hujan, tanah bergerak. Rumah bunyi seperti mau ambruk,” ungkapnya.
Jarak rumah Prio dengan bibir Sungai Gung kini tak lebih dari tujuh meter. Meski kondisi membahayakan, ia bersama istri dan empat anaknya masih bertahan. Aktivitas keluarga lebih banyak dilakukan di ruang depan demi menghindari risiko runtuhan di bagian belakang.
“Saya berharap huntap segera bisa ditempati. Biar keluarga saya bisa hidup normal lagi. Sekarang tidur saja tidak nyenyak,” tuturnya.
Dukungan juga mengalir dari berbagai pihak. Salah satunya dari Pemuda Pancasila (PP) Kecamatan Lebaksiu. Ketua PAC PP Lebaksiu, M. Rikhni Yusron, mengaku sangat prihatin setelah melihat langsung kondisi warga.
“Banyak rumah ambruk, perabotan rusak. Kerugian mereka sangat besar,” ujarnya.