TEGAL, diswayjateng.com - Pagi itu Kota Tegal kebanjiran. Air menggenang di mana-mana. Termasuk di Halaman Kantor Kecamatan Tegal Barat. Sepatu basah. Celana digulung. Namun, aula kecamatan justru penuh. Pra Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting 2026 tetap berjalan sesuai jadwal, Kamis (5/2). Kecamatan Tegal Barat seolah ingin mengatakan: air boleh saja naik, tapi ikhtiar jangan surut.
Camat Tegal Barat Teti Kirnawati lah yang membuka acara Musrenbang Tematik Stunting ini. Duduk di sebelah Teti, Danramil Kapten Inf Bambang Kalisno, lalu Kapolsek AKP Sunyarni, Kepala Puskesmas Tegal Barat dr Evi Sukaesih, Kepala Puskesmas Debong Lor dr Susan. Musrenbang Tematik Stunting ini juga mengundang Kelurahan, PKK, KUA, Puskesmas, hingga Bank Jateng.
Ini bukan acara dadakan. “Ini kelanjutan dari Musrenbang Tematik Stunting yang sudah digelar di Kelurahan Kraton, Tegalsari, Muarareja, Pesurungan Kidul, Pekauman, Kemandungan, dan Debong Lor,” kata Teti.
Puskesmas Tegal Barat dan Puskesmas Debong Lor memaparkan data. Angkanya detail, memuat sejumlah indikator sasaran percepatan penanganan stunting. Tidak untuk menakut-nakuti. Namun, untuk menyadarkan.
Ada calon pengantin. Ibu hamil. Ibu nifas. Bayi lahir hidup. Bayi berat lahir rendah. Bayi risiko stunting. Bayi bawah dua tahun. Bayi bawah lima tahun. Semua terdata. Ada angkanya.
Calon pengantin di Kelurahan Tegalsari ada 96. Kraton 79. Muarareja 71. Pesurungan Kidul 44. Debong Lor 34. Pekauman 34. Kemandungan 17. Ibu hamil lebih banyak lagi. Tegalsari 245. Kraton 134. Muarareja 141. Pesurungan Kidul 94. Debong Lor 81. Pekauman 108. Kemandungan 49. Bayi berisiko stunting juga nyata. Tegalsari 32. Kraton 23. Muarareja 21. Pesurungan Kidul 25. Debong Lor 6. Pekauman 6. Kemandungan 7.
Sebelumnya, sejumlah upaya sudah dilakukan. Balita dari keluarga tak mampu didorong masuk JKN. Agar urusan kesehatan tidak berhenti di biaya. Remaja putri diberi TTD. Di sekolah. Di Posyandu Remaja. HB mereka disaring.
Supaya anemia tidak datang diam-diam. Calon pengantin diperiksa. Diberi konseling. Di Puskesmas. Ibu hamil juga begitu. Bayi dan balita pun tak luput. Datang, diperiksa, diajak bicara. Dijelaskan.
Penyuluhan jalan. Ada Kelas Balita. KPASI. PMBA. Kelas Ibu Hamil. Tidak di ruangan saja. Tapi juga lewat kunjungan rumah. Terutama balita yang gizinya bermasalah. Jika perlu, dirujuk ke RSUD. Didampingi.
Balita stunting diperiksa dokter spesialis anak. Dari PSR dan Alodok. Yang perlu PKMK, diberi. Atas rekomendasi dokter. PMT lokal jalan. Untuk ibu hamil KEK. Juga balita dengan masalah gizi.
Air minum diperiksa. Air bersih dicek. Lingkungan dilihat. Perumahan dinilai. Bayi dipijat. Suplemen gizi dibagikan: taburia, obat cacing, vitamin A. Posyandu dimonitor. Tidak boleh kendor.
Penyuluhan bahaya merokok juga terus diingatkan. Karena stunting bukan cuma soal makan. Tapi soal cara hidup. Namun, ternyata masih terdapat sejumlah kendala yang perlu diatasi. Apa saja?
Di antaranya, capaian D/S masih rendah. Maka perlu disweeping. Dijemput, bukan ditunggu. Rumah dan lingkungan banyak yang belum saniter. Air, jamban, dan kebersihan masih jadi soal.
Makanan bergizi, terutama protein hewani, belum jadi menu harian balita. Masih jarang. Masih mahal. Masih dianggap tidak penting. MP-ASI sering diberikan seadanya. Tidak sesuai kualitas. Tidak cukup kuantitas.
Pengetahuan gizi ibu balita atau pengasuh juga masih terbatas. Akibatnya, pola asuh ikut keliru. Bukan karena tidak sayang, tapi karena tidak tahu. Kesadaran soal rokok juga rendah. Asapnya dekat dengan balita. Dianggap biasa.