SALATIGA, diswayjateng.com - Diawal tahun 2026, petani di Kelurahan Tingkir Tengah Salatiga kembali harus menelan pil pahit. Akibat diserang hama tikus, Petani Tingkir Tengah terpaksa gagal panen lagi.
Di musim panen ini, hampir 80 lahan sawah lestari panen yang ditanam akhir tahun lalu mengalami gagal panen. Tercatat, lahan sawah lestari di Tingkir Tengah, khususnya di samping Exit Tol Tingkir Salatiga mencapai 2000 hektar.
Bahkan, beberapa petak sawah yang mulai menguning dan telah berbuah dalam kondisi rusak karena batangnya telah patah digigit hewan pengerat.
"Banyak yang gagal lagi. Seluas mata memandang padi yang ditanam alhir tahun lalu batangnya telah patah digigit tikus," kata Rochmat, Jumat 6 Februari 2026.
BACA JUGA: Update Tanah Bergerak di Desa Padasari Tegal, 448 Rumah Rusak, 1.686 Jiwa Mengungsi
BACA JUGA: Paska Banjir Bandang Pemalang, Jumlah Pengungsi Berkurang dan Aktivitas Berangsur Normal
Ia menyebutkan, serangan hama tikus ini selain karena kondisi alam juga sedikit banyak disebabkan pola tanam yang tidak serempak antara satu pemilik lahan pertanian dengan pertani lainnya.
Dimana kondisi padi yang ditanam petani saat ini tidak tumbuh maksimal.
"Bahkan, ada lahan yang telah menguning namun batang padi patah akibat gigitan tikus," ungkapnya.
Untuk meminimalisir kerugian, petani tetap memanen padi yang telah menguning meskipun hasilnya tidak seberapa dan bersiap untuk menanam ulang.
BACA JUGA: Ratusan Kapal Kandas, Ini Cerita Nelayan Batang Tak Bisa Melaut Saat Musim Baratan Ekstrem
Salah satu anggota Kelompok Tani Sumber Agung Salatiga, Pranyata menambahkan, setelah dipastikan musim ini gagal panen karena serangan hama tikus padi mulai berbuah harus dibabat untuk pakan ternak.
Jika serangan hama tikus di alami pertanian hampir terjadi di seluruh wilayah Kota Salatiga.
Dengan kondisi itu, para petani mengikhlaskan padi mereka untuk pakan ternak.
"Ya pada akhirnya padi yang gagal panen dibabat untuk hewan ternak sapi," ujarnya.
Seorang peternak warga Salatiga yang mendapatkan rejeki membabat padi mengaku diberi secara cuma-cuma untuk pakan ternaknya.
BACA JUGA: Lewat Kejari Batang, PLN Kembalikan Rp7,3 Miliar Dana Kelebihan Bayar PJU ke Pemkab
BACA JUGA: Antisipasi Tumpukan Sampah di Posko Pengungsian, DLH Tegal Kirim Armada ke Desa Padasari
Serangan Hama Tikus
Ia menerangkan, hampir 80 persen di lahan lestari khususnya di Tingkir Tengah Salatiga diserang hama tikus.
Bahkan, dari pengalaman para petani di Salatiga sejak terakhir tahun 90-an, gagal panen kali ini adalah yang pertama dan terparah dalam sejarah pertanian.
"Untuk di Salatiga saja hampir 80-an persen yang terserang hama tikus dan kondisi ini karena cuaca dalam alam," ungkapnya.
Kondisi ini diakuinya paling parah dalam sejarah pertanian di Salatiga. Dan sejak ia bercocok tanam di Salatiga untuk kurun waktu 15 tahun terakhir belum pernah terjadi kegagalan panen.
BACA JUGA: Longsor Tiga Titik di Ungaran Timur, Polres Semarang Berjibaku Buka Akses Jalan Bersama Warga
BACA JUGA: Polisi Usut Dugaan Pembakaran Dua Rumah di Pati, Pelaku Dijebloskan Tahanan
Pranyata yang memiliki sekitar 1 hektar lahan persawahan, diakui dia seluruhnya gagal panen.
Hal serupa di alami Rumsiah dan Fauzan. Keduanya mengaku, dari lahan yang dikelola 2000 meter ia mengalami kerugian untuk bidang sawah sebesar Rp5 jutaa.
Fauzan mengaku, serangan hama tikus ini selain karena kondisi alam juga sedikit banyak disebabkan pola tanam yang tidak serempak antara satu pemilik lahan pertanian dengan pertani lainnya.
"Ya selain alam, juga karena pola tanam juga tidak serempak menjadi pemicu munculnya hama tikus menyebabkan gagal panen kali ini," akunya.
Sementara itu, kondisi padi yang ditanam petani saat ini tidak tumbuh maksimal. Bahkan, ada lahan yang telah menguning namun barang padi patah akibat gigitan tikus.